wejangan Habib Mundzir Al musawa’

Tausyiah di Masjid Raya Almunawar, Senin 24 Desember 2007
ImageLimpahan Puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu, Maha Melihat, Maha Mendengar, melihat semua dari lintasan pemikiran hambaNya, tidak lepas dari-Nya semua apapun yang dipikirkan hambaNya dari sejak alam semesta tercipta Hingga alam semesta berakhir, tiada yang tersembunyi dihadapan Allah. Maha Mengetahui dan bersatu kepada-Nya seluruh pengetahuan, bersumber kepada-Nya segala kemuliaan dan kehidupan. Maha Suci Allah yang meruntuhkan kekuasaan dengan kematian, ketika Allah mendatangkan kematian kepada hamba-Nya, runtuhlah seluruh kekuatan dan kekuasaan mereka dengan kehendak Allah. Maha Suci Allah dan beruntunglah mereka yang mengikuti tuntunan keabadian yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, hingga pemimpin Nabi dan Rasul Sayyidina Muhammad SAW wa baaraka ‘alaih wa ala alih.

Hadirin-hadirat, malam hari ini kita berkumpul didalam perkumpulan kembali didalam kemuliaan Ilahi, yang tiada pernah menutup pintu anugerah setiap waktu dan saat, rahmat-Nya selalu dilimpahkan pada hamba-hamba-Nya sepanjang waktu dan zaman, akan tetapi hamba-hamba-Nya lah yang selalu menghindar dari rahmat-Nya. Sungguh beruntung mereka-mereka yang mensucikan dirinya dengan tuntunan keluhuran dan merugilah mereka yang mengotori dirinya.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, juga dimalam ini adalah malam yang sangat menyedihkan bagi orang-orang yang beriman yang mencintai Allah dan Rasul, sungguh Allah SWT telah berfirman didalam surat Maryam:
“takaadussamaawaatu yatafatthorna minhu, wa tansyaqqul-ardhu watakhirrul-jibaalu haddaa* an tadau lirrohmaani waladaa* wamaa yanbaghii lirrohmaani an yattakhidza waladaa* inkullu man fissamaawaati wal-ardhi illaa aatirrahmaani ‘abdaa* laqod ahshoohum wa ‘addahum ‘addaa* wakulluhum aatiihi yaumal-qiyaamati fardaa*(

“Allah berfirman: “Hampir saja langit itu terbelah, bumi itu terpecah, dan gunung-gunung itu hancur berkeping-keping, ketika mereka mengatakan Allah mempunyai putra, “wamaa yanbaghii lirrohmaani an yattakhidza waladaa” tiada sepantasnya seseorang mengatakan Arrahman (Allah) mempunyai putra, “inkullu man fissamaawaati wal-ardhi illaa aatirrahmaani ‘abdaa” semua yang ada dilangit dan bumi akan datang kehadapan Arrahman sebagai hamba, “laqod ah shoohum wa ‘addahum ‘addaa” Aku sudah menghitung seluruh jumlah hambaKu dan mereka akan datang kehadapan-Ku semua hamba-Ku yang Kuciptakan, “wakulluhum aatiihi yaumal-qiyaamati fardaa” mereka akan datang kehadapan Allah sendiri-sendiri”.

Hadirin-hadirat, alam semesta ini hampir hancur ketika mendengar aqidah yang muncul mengakui Allah mempunyai putra. Dan malam ini hadirin, inilah malam penghinaan terbesar terhadap Allah, inilah malam yang bisa membuat hancurnya alam semesta, dari takutnya penghinaan mereka terhadap Allah.

Allah telah berfirman didalam Alqur’annulkarim surat Al Maidah:
“waidz qoolallahu yaa iisabna maryama a-anta qulta linnaasittakhidzuunii wa ummiya ilaa haini min dunillah”, “wahai Isya bin Maryam”, Allah berkata kepada Isa bin Maryam kelak di yaumil qiyamah. “engkaukah yang mengajari dan mengatakan kepada orang untuk menyembahmu dan menyembah ibumu selain Allah?” maka berkatalah sayyidina Isa bin Maryam” “Subhaanaka maa yakuunu lii an aquula maa laisa lii bihaqqin” Maha Suci Engkau Robbi aku tidak bicara terkecuali apa yang benar dan Kau perintahkan”, “in kuntu qultuhuu faqod ‘alimtah” “bila aku betul mengucapkannya sungguh Engkau akan mengetahuinya, “ta’lamu maa fii nafsii walaa a’lamu maa fii nafsika” “Kau Maha Tahu apa yang ada didalam diriku dan aku tidak tahu apa yang ada pada Dzat Mu”, “innaka anta ‘allaamul-ghuyuub”

Didalam dzurrul mansyur, yang dikarang oleh Al-Imam Al Hafidh Jalaluddin Abdurrahman As-shuyuti menukil (mengutip) bahwa, ketika Allah bertanya pada Nabi Isa, saat itu Nabi Isa bergetar dan roboh (jatuh) dari takutnya atas pertanyaan Allah, bahkan ketika itu ada riwayat bahwa seluruh tulang rusuknya terlepas daripada rusuk lainnya, dari gentarnya atas pertanyaan Allah, “a-anta qulta linnaasittakhidzuunii wa ummiya ilaa haini min dunillah” apakah kau yang berkata kepada manusia untuk menyembahmu dan ibumu melainkan selain Allah SWT”. Pertanyaan ini merobohkan (menjatuhkan) Isa bin Maryam, dan diriwayatkan didalam Kutubuttafassir, pertanyaan itu diajukan kepada Nabi Isa dihadapan Mahsyar kelak, sehingga seluruh manusia melihat betul bahwa Nabi Isa tidak mengucapkannya.

Hadirin-hadirat, inilah malam penghinaan terbesar bagi Allah, akan tetapi kita tidak kecewa dan jangan sampai kita rusuh, dengan menghancurkan semua tempat peribadatan selain Allah, tapi hancurkan aqidah mereka, hancurkan keyakinan mereka, dengan dakwah kita, dengan ucapan kita, dengan harta kita, dengan doa dan munajat kita.

Sungguh Rasul saw telah bersabda diriwayatkan didalam Shahih Bukhari: “layumsikanna an yanzila fiikum ibnu maryam hakaman adla” “akan datang waktu turunnya Isa bin Maryam kepada kalian menjadi hakim yang adil dan berkuasa diseluruh penduduk dimuka bumi”, “wayaghsirasalib” Isa bin Maryam akan menghancurkan salib, menghancurkan tempat peribadatan selain Allah.

Hadirin-hadirat akan datang masanya Isa bin Maryam menguasai bumi, menguasai Jakarta, meruntuhkan semua salib yang ada dimuka bumi, Ini janji Sayyidina Muhammad saw, akan datang waktu Isa bin Maryam merobohkan semua salib yang ada di muka bumi, “wayaghsirasalib” ia datang ke bumi pertama kali menghancurkan semua salib, “wayajabal jizyah” dan mewajibkan kepada orang-orang non muslim mengeluarkan Jizyah, semacam zakat yang lebih ringan dari zakat.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah,
Permukaan bumi ini milik Allah, dan yang mesti kita benahi adalah saudara-saudari kita, muslimin muslimat jangan sampai terjebak dalam kemunkaran ini, sudah cukup kita memiliki idola-idola mulia, tidak perlu idola orang-orang yang tidak pernah sujud pada Allah, tidak perlu idola orang-orang yang tidak tunduk kepada Robb, idola kita (ialah) sayyidina Muhammad SAW wa barak ‘alaih, idola kita para sahabat Nabi Muhammad, idola kita para ahli bait Nabi Muhammad, idola kita para imam-imam penerus Nabi Muhammad, para da’i yang membawa tuntunan Nabi Muhammad SAW, inilah idola kita, “almar,u ma’a man ahab”.

Sampailah kita kepada hadits mulia “laa tasubbu ashaabii” jangan kau caci sahabat-sahabatku, dimalam selasa yang lalu kita sudah membahas betapa mulianya sayyidatuna Fatimatuzzahra ra dan sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wahjah ra, dan dimalam ini kita mendengar Rasul SAW bersabda: “Ihtassa arsyurrahman li mauti sa’ad ibnu muaz” demikian diriwayatkan didalam shahih bukhari, berkuncang ‘ars-Nya Allah itu ketika wafatnya sa’ad bin Muaz”, ada apa? karena ia ahlu khusu’ pembela sayyidina Muhammad, Sa’ad bin Muaz berwasiat, ketika dimedan khandak, ini hadirin khandak terjadi pada tahun kelima hijriah, dibulan syawwal dan dzulqo’dah, ketika para yahudi bersatu dengan kufar quraisy untuk menghancurkan dan menyerang Madinatul munawarah, mereka bersatu dengan pasukan yang dahsyat dan keluar pada tahun kelima hijriah menuju Madinatul munawarah, Rasul SAW memerintahkan para sahabatnya untuk tidak menyiapkan pasukan, tetapi menyiapkan parit, menggali parit, menggali jurang yang tidak terlalu dalam untuk membentengi Madinah.

Kita akan kupas hikmah khandak ini, disaat menggali khandak itulah, Rasul SAW mendengar kaum Anshor bersenandung, mereka bersenandung membaca qosidah bersama Rasulullah SAW, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari; “nahnulladzina bai’ana Muhammada ‘ala jihadi ma hayyina abada” kami inilah yang telah membaiat Nabi Muhammad dan kami selalu hidup didalam jihad selama-lamanya, demikian ucapan Muhajirin dan Anshor bersenandung, dijawab oleh Rasul SAW, Rasul menjawab: “Allahumma la haisyu illa haisyal aakhiroh wa akrimil anshor wal muhajiroh” wahai Allah tiada kehidupan yang hakiki selain kehidupan diakhirat maka muliakanlah anshor dan muhajirin”, demikian diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, mereka membaca qosidah bersama-sama, untuk menggali parit, bersama Nabi Muhammad SAW. Ketika muncul orang sekarang mengingkari qosidah, ketahuilah qosidah kita belajarnya (mempelajarinya), mengikutinya dari Nabiyyuna Muhammad SAW yang memulainya dan memperbolehkannya dan bahkan mengajarkannya.

Hadirin hadirot, ketika sayyidina Salman al-farisi ra wa arhdoh, mengadu kepada Rasul, diriwayatkan didalam syarah ibnu Hisyam, wahai Rasulullah kami temukan batu yang tidak bisa pecah, dipukul dihantam dengan martil tidak mau pecah, maka Rasul mengambil martil besar tersebut dan beliau memukulkannya sekali, maka berpijarlah kilat yang demikian dahsyatnya, lalu kedua kali dan ketiga kali, maka berkata Salman al-farisi ya Rasulullah itu tadi cahaya kilat tiga kali apa ya Rasulullah? Rasul SAW berkata; kau melihatnya? aku melihatnya wahai Rasul, pukulanku yang pertama tadi “yaftahillahu bihi syam” pukulanku yang pertama itu kata Rasul, membuka wilayah Syam, wilayah Yaman dan wilayah Irak, tiga kali pukulan, satu kali gerakan tangan sang Nabi membuka kemenangan untuk Yaman, Syam dan Irak, tiga kali pukulan, tiga kali kemenangan tanpa peperangan, demikian dahsyatnya mu’jizat Nabi Muhammad SAW, dan disaat itulah Sa’ad bin Muaz ra, berdoa kepada Allah setelah ia terkena panah dipundaknya, darah terus mengalir, dan ia berkata; wahai Allah seandainya Quraisy ini masih akan berlanjut peperangannya, maka hidupkan aku dan panjangkan usiaku, apabila Quraisy ini selesai peperangannya maka wafatkan aku wahai Allah, sungguh tidak ada yang lebih ku senangi selain memerangi orang-orang yang mengganggu Rasulullah, orang yang mengganggu Rasulullah itulah yang paling senang ku perangi, itulah tujuan hidupku, Sa’ad bin Muaz raw a ardhoh, ia hanya ingin hidup untuk membela Nabi Muhammad SAW, kalau sudah selesai perang, sudah wafatkan aku wahai Allah.

Maka tidak beberapa hari kemudian Allah mengirimkan angin yang demikian dahsyatnya membuat pasukan Quraisy dan Yahudi kocar-kacir dan bubar, sebelumnya terjadi peperangan antara Amar bin Abdu Wud dengan sayyidina Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhah. Amar bin Abdu Wud yang berdiri didepan parit berkata “mana tidak ada satukah diantara satria muslimin yang mau menghadapiku?” Para sahabat diam menanti perintah Rasul, berdiri sayyidina Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhah yang masih muda belia, ya Rasulullah, aku, maka berkatalah Rasul; “ijlis ya Ali innahu ibnu Abdi wud” duduk wahai Ali, ini Amar bin Abdu Wud, bukan sembarang orang, ia pun menantangi kedua kali, Ali bin Abi Thalib berdiri lagi, aku ya Rasulullah, Rasul berkata “duduk wahai Ali”, ini Amar bin Abdu Wud, bukan sembarang orang, ketiga kalinya, sayyidina Ali berdiri lagi, dan Rasul tidak melarangnya bahkan mendoakannya, maka keluarlah sayyidina Ali bin Abi Thalib, seorang pemuda belia, yang tampaknya masih hijau dari berpengalaman, berhadapan dalam peperangan, Amar bin Abdu Wud berkata “engkau ini putra Abi Thalib, aku ini teman ayahmu, tidak salah engkau mau melawan orang seperti aku?” Maka Ali bin Thalib berkata “aku bila kau ingin tahu ingin membunuhmu, itu saja kuinginkan, bila engkau malu memerangi daripada putra temanmu, ketahuilah aku ingin membunuhmu, maka ucapkanlah syahadah! Maka nyawamu selamat” maka berkatalah Amar bin Abdu Wud dengan kemurkaannya “celakalah engkau dan ayahmu” maka tiada lama Amar bin Abdu Wud pun roboh, terbelah dua dari rambutnya hingga kudanya oleh pedang sayyidina Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhah, maka mulai memanas keadaan dan sejak itulah Allah mulai datangkan angin yang terus meniup mereka sehingga terjadi badai yang dahsyat, Abu Sufyan menggulung kemahnya, berangkat meninggalkan Madinah, diikuti kabilah-kabilah lainnya.

Inilah hadirin hadirot hikmah perang khandak, bahwa kemenangan muslimin tidak mesti harus dengan senjata, bisa dengan alam, bisa dengan kekuatan Allah SWT, menghancurkan musuh-musuh Islam tidak harus dengan senjata. Sampailah kita kepada hadits mulia ini “laa tasubbu ashaabii” jangan sesekali kalian mencaci sahabat-sahabatku, sungguh bila diantara kalian menginfaqkan emas sebesar gunung uhud sekalipun, belum menyamai satu genggam amal perbuatan mereka, bahkan tidak menyamai setengah genggam dari perbuatan mereka, kenapa? Karena para sahabat berjuang disaat kebangkitan pertama Islam, mereka berinfaq, disaat belum ada yang berinfaq, mereka berjuang disaat belum ada yang berjuang, tapi kalau dimasa selanjutnya, setelah fatah Makkah, setelah kemenangan-kemenangan, semua orang ingin dekat dengan Islam dan membela Islam karena kelihatan kekuatannya, tapi disaat Islam lemah, disaat itulah pahala terbesar yang disabdakan oleh Nabiyyuna Muhammad SAW.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, Saya tidak berpanjang lebar dalam pembicaraan ini, hikmah kita yang paling penting diambil dimalam hari ini, inilah malam penghinaan terhadap Allah yang terbesar dari sepanjang malam lainnya, oleh sebab itu kita perbanyak doa dan munajat dan ingat kemenangan tidak harus dengan senjata, perang khandak menunjukkan kemenangan bisa dengan kekuatan alam, karena kemenangan itu milik Allah SWT.

Hadirin hadirot kita berdzikir memanggil nama Allah, agar Allah SWT melimpahkan hidayah bagi kita, dan Allah menjaga muslimin muslimat dari musibah, Robbi jadikan hujan yang datang kepada kami hujan rahmah, jadikanlah hujan yang datang kepada kami hujan hidayah, Robbi kami meminta kepada-Mu agar Engkau meruntuhkan iman, kekuatan dan keyakinan mereka yang masih memenuhi gereja-gereja, yang masih menyembah selain Allah, runtuhkan aqidah mereka ya Robb, tiupkan kepada mereka hujan hidayah, sehingga mereka meninggalkan salibnya, meninggalkan sesembahannya, kembali kepada nama-Mu ya Allah ya Rahman ya Rahim, jadikanlah kota Jakarta ini sirna satu persatu gereja demi gereja tutup diwilayah Jakarta dan sekitarnya, dan diseluruh wilayah muslimin, Robbi percepat kedatangan Isa bin Maryam, sehingga kami melihat penghancuran salib dan sesembahan (yang disembah) selain Allah SWT, Robbi kami bermunajat kehadirat-Mu untuk mereka-mereka yang masih menyembah selain-Mu, kami Robbi tidak ingin memerangi mereka, kami inginkan mereka menyembah-Mu Robbi, kami ingin mereka sujud kepada-Mu ya Allah, kami ingin mereka hadir dimajlis dzikir, kami ingin mereka meninggalkan gerejanya, bersujud kehadirat-Mu, melakukan sholat subuh, melakukan sholat zuhur, tunduk kehadirat-Mu, inilah doa kami Robbi, dan jagalah saudara-saudari kami Robbi, yang niat berma’siat dimalam ini, yang niat berzina dimalam ini, yang niat mabuk-mabukkan dimalam ini, balikkan niat mereka ya Robb untuk bertaubah, jadikan Robbi hari esok bukanlah hari kemurkaan-Mu, tapi hari terbitnya hidayah bagi muslimin-mulimat, fa Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Y Ya Allahu Ya Allah a Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal Ikrom.

Robbi beberapa tahun yang silam, kami melihat bagaimana ketika muslimin yang membuka jilbabnya (krudung) demi meramaikan malam natal, maka Engkau datangkan tsunami yang meleburkan ratusan ribu muslimin, demi menghapus mereka-mereka dari kezholimannya, Robbi jagalah bumi Jakarta, kami telah memahami bahwa Jakarta sudah berada dibawah permukaan laut, dan dosa terbesar adalah berada diibu kota negara muslimin terbesar dimuka bumi ini, Ya Rahman jagalah demi nama-Mu yang Maha Luhur, hujankan atas kami hujan hidayah, munculkan jiwa-jiwa yang bertaubah, Ya Rahman Ya Rahim Ya dzal Jalali wal Ikrom Ya dzattholi wal in’am, cukupkan bagi kami hujan yang membawa musibah, datangkan pada kami hujan hidayah, datangkan bagi kami banjir rahmah Ya Rahman Ya Rahim Ya dzal Jalali wal Ikrom, Robbi kami mengadukan saudara-saudara kami keturunan Adam, yang masih menyembah selain-Mu, Robbi berikan kepada mereka hidayah, sebagaimana sang Nabi mendoakan para kuffar ” Allahummahdi fainnahum laa ya’lamuun” wahai Allah berilah mereka hidayah, sungguh mereka tidak mengetahui, Robbi jika mereka tahu yang benar adalah Engkau yang Maha Tunggal, niscaya mereka tidak akan menyembah Isa bin Maryam, jika mereka tahu bahwa Isa bin Maryam mengingkari hal ini, mereka tidak akan menyembahnya, Robbi maka berikan atas mereka hidayah, fa Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya dzal Jalali wal Ikrom.

Hadirin hadirot insya Allah, Allah SWT menerbitkan bagi kita matahari hidayah, menunjukkan bahwa doa-doa dan munajat kita ini akan menepis musuh kita sedikit demi sedikit, dengan bangkitnya generasi-generasi para pecinta Nabi Muhammad SAW, Ya Rahman Ya Rahim, insya Allah malam selasa yang akan datang, kita majlis di masjid jami’ Al-Ma’mur, dan bagi yang belum mengetahui, maka konvoi dari Masjid Al-Munawar ba’da isya pukul 20.30 menuju Masjid Al-Ma’mur, dan kita akan berdzikir dengan lafdzul Jalalah Ya Allah Ya Allah sebanyak seribu kali, disaat pukul 00.00 tepat, disaat gemuruhnya terompet yang membesarkan keagungan yang merupakan penghinaan kepada Allah, kita mengagungkan nama Allah SWT, sungguh bukan maksud kita membuat perayaan dimalam satu januari, tetapi maksud kita mengimbangi ma’siat saudara-saudari kita, bahwa yang lebih berhak diagungkan adalah Allah SWT, kelak diyaumilqiyamah Allah SWT, akan mengundang mereka-mereka yang menghina hal-hal yang dimuliakan oleh Allah SWT, sehingga diangkatlah wajah-wajah mereka dihadapan padang mahsyar, lantas malaikat berkata “haaula alwujuh alladziina yuazzhimuuna mastathohurullah” inilah wajah orang-orang yang mengagungkan apa-apa yang dihinakan oleh Allah, maka berjatuhanlah kulit wajah mereka dari malunya dipadang mahsyar, kita berdoa agar saudara-saudara kita mendapatkan hidayah dari Allah SWT Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya dzal Jalali wal Ikrom.

Tausyiah di Masjid Raya Almunawar, Senin, 07 Januari 2008
ImageAssalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaihi wa’ala aalih

Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor
Limpahan Puji Kehadirat Allah Yang Maha menerbitkan matahari yang terbit dimuka bumi, Maha menerbitkan matahari risalah dalam kehidupan hamba-hamba Nya, Maha menerbitkan matahari khusyu didalam jiwa hamba-hamba Nya yang beriman. Ketika mereka telah termuliakan dengan kalimat Tauhid dengan Laa ilaahaillallah maka siaplah jiwa mereka menerima cahaya keagungan Illahi, tentunya akan terbit dan bangkit dengan Iqtida (titian) dan panutan mereka kepada Sayyidina Muhammad saw.

Maka terbitlah matahari khusyu dan kesejukan jiwa dalam sanubari mereka, menerangi hari-hari mereka untuk menghindari kehinaan, dan selalu terbimbing kedalam keluhuran dan kemuliaan, Membuat jiwa mereka menuntun hari-hari mereka dalam budi pekerti yang indah, karena (jika) jiwa ini telah sempurna dan sanubari ini telah sempurna maka akan benar dan baiklah seluruh tubuhnya. Panca indranya akan dituntun oleh jiwa dan sanubarinya yang terang benderang ini kepada perbuatan yang mulia sehingga langkah-langkahnya selalu ingin yang mulia disisi Allah, Demikian perbuatannya, demikian siang dan malamnya, jadilah hari-harinya selalu indah karena didalam jiwanya terdapat matahari khusyu, terang benderang dengan cahaya Allah “Annur” Yang Maha Bercahaya, Hubungan antara jiwa dan sanubari dengan Sang Pemiliknya (pemilik jiwa : Allah) dan (yang Dia swt pula) Sang Pemilik Keabadian, Sang Pemilik Kebahagiaan, Sang Pencipta Keluhuran, Sang Pencipta Alam semesta dari ketiadaan,

Hubungan antara kita dengan Allah adalah dengan doa, inilah tali yang menyambungkan Al Khaliq dengan makhluk, Doa panggilan dan seruan menyebut nama Allah, Inilah hubungan antara kita dengan pencipta kita yang dari Nya lah terbuka semua kebahagian dalam kehidupan kita dan setelah kematian kita, Dan orang-orang terpilih dari zaman ke zaman selalu termuliakan dengan doa dan munajat, Ketika bermunajat Sayyidina Zakaria as, Allah mengabadikan doanya dan munajatnya di Al Qur’annulkarim, Allah menjelaskan betapa indanya jiwa Zakaria as, Karena indah dan khusyunya jiwa Zakaria as ini maka muncullah kalimat-kalimat indah dari bibirnya, Kalimat indah yang bermunajat kepada Yang Maha Indah dengan kerendahan hati dan puncak tawadhu seorang Nabi dan Rasul kepada Allah, sebagaimana firman Nya swt : “Ingatlah rahmat yang Allah berikan kepada hamba Nya (swt) Zakaria”, yaitu Rahmat Ku yang Kuberikan kepada Zakaria ini mampu Kuberikan kepada seluruh hambaKu dan bukan hanya Zakaria”. “Ketika dia menyeru kepada Tuhannya dengan seruan yang lembut“, khafiyya berarti lembut dan tersembunyi, didalam dasar hatinya yang terdalam dia menyeru kepada Allah dengan jeritan hati tapi dengan ucapan yang lembut dan lirih kehadirat Allah, Rabbi Alangkah indahnya kejadian dan perbuatan ini sehingga Kau ceritakan kepada kami betapa indahnya perbuatan Zakaria as ini.

Kita lihat bagaimana doa Zakaria as yang demikian indah “Rabbi inni wahanal ‘adhmu minniy, wasyta’alarra’su syaiban, walam akun bidu’aika rabbiy syaqiyya (QS Maryam 2,3,4) Zakaria as ini meminta keturunan, itu yang diminta Zakaria as tapi lihat keindahannya bermuamalah (muamalah = bergaul sopan) dan bercakap-cakap dengan Tuhannya yaitu Allah. “Rabbi inni wahana..” : wahai Allah sungguh tulang-tulangku ini sudah mulai rapuh, sudah tua renta, rambutku sudah memutih dan kulitku sudah semakin tua, maksudmu apa wahai Zakaria as? Ia meneruskan lagi doanya “walam akun bidua’ika rabbiy syaqiyya” : “Tapi aku tidak akan dikecewakan berdoa kepadaMu” Rabbi. Aku tidak akan terhinakan dan terkecewakan dengan berdoa kepadaMu Rabbi, sirna sudah seluruh harapan selain Allah, Seorang hamba yang mengadu kepada pemilik Nya lebih dari seorang anak bocah yang mengadu kepada bundanya, demikian Zakaria as mengadu kepada Allah, Mengadukan kelemahan tubuhnya, jiwanya dan hatinya dan tubuhnya dan jasadnya yang demikian tua renta tetapi dia mempunyai harapan “walam akun bidua’ika rabbiy syaqiyya” : “Tapi aku tidak akan terhinakan bila berdoa kepada Mu”. Disini bila kita ambil maknanya orang yang berdoa selalu dimuliakan Allah karena ini bukan ucapan Zakaria as lagi, tapi sudah menjadi firman Allah, sebelumnya memang ucapan Zakaria as tetapi setelah keluar dari kalamullah berarti ini sudah menjadi firmannya Allah swt “walam akun bidua’ika rabbiy syaqiyya”Tanamkan dalam jiwa kita ucapan-ucapan mulia ini ”Rabbi aku tidak akan terhinakan bila berdoa kepada Mu”.

Sangka baik seperti ini, Sangka mulia kepada Allah seperti ini, membukakan seribu gerbang kemuliaan karena Allah telah berfirman dalam Hadits Qhudsyi riwayat Shahih Bukhari “Aku berada dalam persangkaan hambaKu”. Jika ia berkata “aku tidak akan terhina wahai Allah jika aku berdoa kepadaMu” maka Allah tidak akan menghinakannya, “aku tidak akan dikecewakan bila meminta kepadaMu” maka Allah tidak akan mengecewakannya selama jiwanya berbicara kepada Allah, selama hatinya bermuwajahah (berhadapan dan keluh kesah) kepada Allah, Lidah kita termuliakan dengan munajat, kedua tangan kita termuliakan dengan munajat akan tetapi awal dari dasar munajat adalah jiwa kita. Demikian hadirin-hadirat Allah Maha Melihat apa yang ada didalam pemikiran kita, Sampailah kita di malam yang mubarakah (penuh keberkahan) ini, didalam setiap tubuh kita ini terdapat jiwa, sanubari, dan ruh yang kesemuanya Alhamdulillah termuliakan dengan kalimat Tauhid, Tidak ada disini yang menyembah selain Allah, Alhamdulillah telah berpadu ruh dan sanubari dan jasad orang-orang yang tidak menyekutukan Allah, Hadirin-hadirat salurkan cinta dalam sanubari kita kepada yang pantas untuk dicintai karena Allah, Dias wt mengumpulkan seseorang bersama dengan orang yang ia cintai, Sebagaimana Allah swt berfirman didalam Alqur’anul karim menceritakan kejadiaan istri Fir’aun yaitu Asiyah,

Asiyah istri Fir’aun siapa? Wanita musyrik penyembah selain Allah, menyembah Fir’aun, menyembah matahari. Dia adalah istri dari seorang suami yang berkata “ana rabbukumul a’la” Fir’aun yang berkata “akulah tuhan kalian yang maha tinggi” (QS Annaziat 24) ini ucapan Fir’aun dan ini istrinya tentunya iapun sama dengan suaminya akan tetapi berbeda ternyata ketika ia mencintai hamba yang mencintai Allah, Ketika dikirimkan kepadanya bayi Musa as, mengalir di danau, peti kayu yang berisi Nabi Musa as maka Asiyah istri Fir’aun menemukannya dan membuka peti kayu, terlihatlah bayi Musa ini, ia pun berkata ini kecintaanku dan kesayanganku wahai suamiku Fir’aun, dipeluk bayinya Musa as. Nabi Musa dalam pelukan Asiyah, pelukan wanita kafir musyrik akan tetapi cintanya kepada Nabi Musa as mengangkat derajatnya dari kekufuran, kemusyrikan, Allah membimbingnya menjadi salah satu wanita termulia dari keturunan Adam as, kenapa? Karena cintanya kepada Musa as. Dari awalnya ia tidak mempunyai amal apa-apa, para Mufassir (ahli tafsir) menjelaskan ketika ia berkata “ini kecintaanku dan kebanggaan dan kesayanganku” (QS Alqashash 9), cinta sekali ia kepada Musa as.

Setelah Musa as tumbuh dewasa dan membawa ajaran Allah iapun beriman maka Allah angkat derajatnya Siti Asiyah menjadi salah satu wanita yang sejajar Sayyidatuna Maryam binti Imran , dengan Sayyidatuna Hajar istri Ibrahim dan wanita-wanita mulia lainnya, kenapa? Karena Allah menerangi jiwanya dengan Mahabbatullah, Ketika ia ditangkap dan dicambuk oleh Fir’aun untuk kembali kepada kekufuran, Asiyah berkata “semakin kau menyiksaku semakin rindu aku kepada Allah”, kenapa ia bisa mencapai derajat yang demikian tinggi? Diawali dengan cintanya kepada Musa as. Demikian pula hadirin Zulaikha wanita yang tergila-gila dengan Nabi Yusuf as. Bagaimana keadaan Zulaikha ini? Zulaikha ini seorang yang kaya raya, ada orang bicara memuji Nabi Yusuf maka zulaikha memberinya harta, diberi perhiasan. Orang bawa syair pujian kepada Nabi Yusuf diberi harta, diberi perhiasan karena cintanya kepada Nabi Yusuf as. Tapi tentunya seorang wanita musyrikah seorang wanita yang tidak beriman. Sebab perbuatannya inilah Nabi Yusuf masuk penjara mendapat fitnah tapi Allah tidak sirnakan cintanya. Di akhir ia berhasil menikah dengan Nabi Yusuf as dan tidak cukup sampai disitu Allah bimbing ia kederajat yang lebih tinggi lagi, yaitu para ahli shiddiqqiyah, orang yang sangat tenggelam didalam cinta kepada Allah dalam ibadah, Setelah menikah dengan Nabi Yusuf as diriwayatkan bahwa Zulaikha tenggelam dalam ibadah setiap malamnya. Sepanjang malam ia terus beribadah tidak pernah jumpa lagi dengan suaminya dimalam hari, di siang harinya berpuasa. Maka berkata Yusuf “wahai Zulaikha bertahun-tahun kau berjuang mendapatkanku dan menikahiku dan setelah menikah kau sibuk ibadah”, Zulaikha berkata “wahai suamiku Yusuf aku memang mencintaimu namun setelah aku menikah, maka Allah menuangi hatiku dengan Mahabbatullah (cinta pada Allah) sehingga aku lupa dengan semua kekasihku tenggelam didalam ibadah Allah”.

Kenapa bisa mencapai derajat ini? Karena ia mencintai Yusuf as, mencintai orang yang dicintai Allah. Lebih-lebih lagi orang yang mencintai Nabi Muhammad saw, manusia yang paling mulia dan Rasul saw berkata “almar’u ma’a man ahabb” : “seseorang bersama dengan orang yang ia cintai. Bahkan berkata Abu Dzar Al Kifari ra bertanya kepada Rasul diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ”Seorang lelaki mencintai suatu kaum tapi ia tidak mampu menyusul dengan amal shalehnya, Rasul berkata : wahai Abu Dzar kau tetap bersama dengan orang yang kau cintai.

Demikian hadirin-hadirat disepanjang masa dari zaman ke zaman Allah mencatat orang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Hati-hati dimana kiblat hatimu kepada siapa engkau cinta idola mu itulah yang kau akan bersamanya kelak di Yaumil Qiyamah. Jika ia mencintai Rasul saw, maka Allah akan membimbing kehidupan kita sehingga kita tidak wafat terkecuali pantas berkumpul bersama Nabi Muhammad saw. Demikian perbuatan Allah kepada istri Fir’aun, Demikian perbuatan Allah kepada Zulaikha, demikian pula dan lebih perbuatan Allah kepada ummat Nabi Muhammad saw yang muslimin yang beriman tentunya lebih-lebih lagi.

Hadirin-hadirat indah sekali Nabi kita ini memberi tuntunan dan bimbingan kemuliaan. Sampailah kita kepada hadits mulia yang kita baca dimalam hari ini diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa ketika seseorang menafkahi keluarganya itu ada pahalanya. Bukan hanya menunaikan kewajiban duniawi saja tetapi hal itu mengandung pahala, ini menunjukkan indahnya ajaran Nabi kita Muhammad saw sampai urusan mencari nafkah pun dilibatkan sebagai ibadah, inilah indahnya ummat Nabi Muhammad saw. Perlu saya perjelas maksud kalimat “shadaqah” pada hadits ini bukan berarti dihukumi hukum shadaqah sebagaimana yang kita kenal, karena apa?, Apabila dihukumi shadaqah maka hukumnya sunnah, tetapi tidak demikian dalam hadits ini, Hukumnya menafkahi keluarga kita punya tanggung jwab kepada kita hukumnya wajib, kalau shadaqah hukumnya sunnah. Tapi yang dimaksud didalam hadits ini adalah pahalanya, bukan hukumnya, kalau hukumnya wajib menafkahi keluarga bila kita mampu, akan tetapi pahalanya adalah seperti pahala shadaqah, maksudnya mengandung kemuliaan tidak percuma begitu saja, Demikian indahnya hadirin-hadirat Allah swt mengatur kesejahteraan, oleh sebab itu kita yang sudah mempunyai istri, anak-anak maka menafkahi mereka itu shadaqah pahalanya, mendapat pahala shadaqah, Yang belum mempunyai istri atau belum mempunyai keluarga maka ia membantu menafkahi ayah ibunya (jadi pahala) shadaqah, ia membantu nafkah keluarganya jadi pahala shadaqah demikian indahnya.

Maksdunya daripada intisari hadits ini keperdulian seseorang kepada orang terdekatnya diganjar oleh Allah dengan pahala bukan dengan kosong begitu saja. Oleh sebab itu jangan sampai diantara kita lebih memperhatikan orang-orang yang jauh padahal orang-orang yang terdekatnya sendiri didalam kesulitan karena mereka lebih berhak didahulukan. Lihat keluargamu, lihat ayah dan ibumu, lihat adik dan kakakmu, jika kita mempunyai harta lebih sampaikan kepada keluarga kita. Demikianlah indahnya sunnah Nabi kita Muhammad saw. Ajaran Sang Nabi saw ini hadirin membawa kesejahteraan, kesejahteraan muncul pada ummat ini ketika kita mengikuti tuntunan Nabi kita Muhammad saw, sejahtera hidupnya. Kita lihat bagaimana Sang Nabi saw mengajarkan akhlak kepada musuh-musuhnya. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa ketika Sayyidina Khubaib ra ditangkap oleh kuffar Quraisy dibawa ke Makkah Al Mukarramah, kenapa ditangkap? Karena ia mengajarkan Alqur’annulkarim, kejadian setelah perang Badr, ditangkap dengan alasan mau membuat perjanjian, Tapi ternyata bukan perjanjian tetapi malah dibelenggu dan ia dijual, dijual di Makkah kepada orang-orang Quraisy yang dendam kepada ahlul Badr karena banyak orang kuffar Quraisy ini yag terbunuh keluarganya oleh Ahlul Badr, Siapa Ahlul Badr? Para sahabat Rasul saw yang berjuang dalam peperangan Badr, Ini Sayyidina Khubaib ra adalah salah satu anggota Ahlul Badr maka iapun ditangkap dan dijual, maka ia dibeli oleh salah seorang lelaki lalu dimasukkan kedalam penjara, dan besok akan dipenggal tentunya.

Sayyidina Khubaib ra seorang yang mulia, muridnya Nabi Muhammad saw, Ia pinjam sebuah silet, dilihatnya ada seorang anak kecil usia 4 tahun lalu berkata “boleh aku pinjam silet?” (kata Sayyidina Khubaib ra) lalu sang anak berkata “untuk apa?” “untuk pembersih wajah besok aku sudah mati syahid”. Indahnya mereka dan damainya mereka menghadapi kesulitan dan musibah, tetap damai walaupun sudah pasti besok akan dipenggal, mungkin dikuliti, mungkin disiksa, mungkin dibantai, dia pasrah, tenang dan damai menghadapi ketentuan ini. Anak kecil ini pun dengan polosnya mengambilkan silet dari rumahnya masuk kedalam penjara membawakan silet kehadapan Khubaib ra, maka Khubaib pun mengangkat silet itu, ibu sang anak begitu melihat anaknya sedang bersama Khubaib menjerit. Kenapa ia menjerit? Karena anak ini justru anak daripada yang membeli Khubaib yang akan membunuhnya besok. Kalau kita bagaimana yang akan kita perbuat? Sudah ditipu, dibelenggu, dijual, esok akan dibunuh, Anak yang membeli kita untuk membunuh kita esok sudah dipangkuan kita ditangan kita (ada) silet, apa yang kita perbuat? Kita lihat perbuatan muridnya Nabi kita Muhammad saw, Khubaib ra berkata pada ibu sang anak : “kau kira aku ini akan membunuh anak ini dan melukainya?, tidak akan kulakukan” Khubaib tetap membersihkan wajahnya, anak tetap dipangkuannya bermain dengan aman, Demikian akhlak dan budi pekerti mereka para sahabat Nabi Muhammad saw, kemenangan islam ini muncul dengan pemilik jiwa yang mulia yang ber Iqtida (berpanut/ mengikuti) kepada Sayyidina Muhammad saw.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, hari-hari mulia terus menjelang didalam kehidupan kita ini, sampailah kita dimalam yang diberkahi Allah swt ini masih didalam renungan dan mendengarkan taujihat-taujihat (arahan-arahan) daripada Hadits Shahih riwayat Shahih Bukhari dalam naungan shalawat dan salam dan doa-doa munajat kepada Allah swt. Majelis ini adalah gabungan dari shalawat kepada Nabi, salam kepada Nabi, dzikir dan juga ta’lim Hadits Nabawi dan juga untuk membangkitkan cinta kita terhadap Nabi Muhammad saw yang dengan itulah sempurnanya iman, Ketahuilah dengan kecintaan kita kepada Rasul Allah akan membukakan rahmat kepada kita lebih daripada jika kita kosong jiwa kita daripada mencintai orang-orang yang dimuliakan Allah, kita bermunajat kepada Allah swt sebagaimana dimalam selasa yang lalu kita bermunajat dengan menyebut nama Allah 1000x dimalam itu, dan Allah tunjukkan banyaknya orang yang masuk islam dan kita akan memanggil nama Allah 100x semoga Allah swt menjauhkan kita daripada musibah di seluruh wilayah muslimin di Barat dan Timur.

Wahai Allah Goncangkan aqidah orang-orang menyembah selain Mu yang masih didalam gereja. Rabbi… Rabbi berikan mereka hidayah, mereka yang masih memusyrikkan orang-orang muslimin jadikan mereka mencintai orang-orang shalihin, mencintai Nabi Muhammad saw. Hadirkan jiwa, sanubari dan ruh kalian dalam nama yang paling agung disebut dari seluruh nama yang ada dialam semesta, nama yang paling agung dan mulia sepanjang usia kita. Tidak ada yang lebih mulia selain mengingat nama Allah swt. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Allahu Yaa Allah…. Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa dzaljalali wal ikram.

Tausyiah di Masjid Raya Almunawar, Senin 25 Februari 2008
ImageAssalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih
Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor, Limpahan puji kehadirat Allah, Maha luhur, Maha menguasai kehidupan, Maha menguasai ruh dan menempatkannya di dalam jasad, Maha memilihkan tempat bagi ruh, untuk muncul di dalam jasad hambanya, sehingga ruh itu mempunyai alat untuk berbicara, sehingga ruh mempunyai alat untuk melihat, mendengar dan berbuat dengan pancainderanya,sehingga ruh diberi manqodzah dan derajat yang mulia oleh Allah untuk termuliakan, semakin dekat kehadiratullah jalla wa’ala, sehingga dijadikanlah tubuhnya ini alat untuk mencapai keridhoan Ilahi, sehingga dijadikanlah tubuhnya itu sebagai alat untuk mencapai keridhoan Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, Ketika selesai izin Robbul’alamin bagi seorang hamba untuk hidup di atas bumi Nya, selesai izin baginya untuk makam dan minum dari rizki di atas bumi-Nya, selesai izin dari Allah bagi bamba-Nya untuk memakai panca inderanya dalam hidupnya, maka Allah memisahkan ruh dengan jasadnya. Jasad dikembalikan kepada asalnya diperut bumi dan berpadu dengan tanah dan ruh mendapatkan pembawa kemuliaan yang dibawanya dimasa hidupnya ataupun membawa kehinaan yang ia lakukan dimasa hidupnya. Kembali ruh berpisah dengan jasad sebagaimana sebelum ia masuk ke alam dunia, iapun kembali berpisah dan selesai di alamulbarzah didalam pertanggungan jawab atas setiap detik masa hidupnya dimuka bumi.

Ya Allah yang Maha membangkitkan kealam penyeru kejalan keluhuran, yang seruan sang Nabi ini dilangsungkan dan diteruskan dari zaman-kezaman dari generasi ke generasi cahaya hidayah dilangsungkan oleh Allah dari jiwa mulia menuju jiwa mulia, menerangi hati si fulan menularkan cahayanya kepada jiwa lainnya, demikian rahasia kemuliaan kebangkitan (yaitu) sayyidina Muhammad SAW wabarik ‘alaih. Kemuliaan dari satu jiwa yang dipenuhi hikmah Ilahi, dipenuhi cahaya kemuliaan al-Qur’anulkarim, lantas disampaikan kepada jiwa-jiwa suci Muhajirin dan Anshor, mereka menerima kemuliaan cahaya risalah dan bimbingan-bimbingan sang Nabi, mereka menerima budi pekerti terindah, menyaksikan makhluk yang paling indah, menyaksikan budi pekerti yang paling indah, menyaksikan akhlak yang paling suci, sehingga mereka tenggelam meninggalkan seluruh idolanya, mereka tidak mengenal idola yang lain, selain Nabiyyuna Muhammad SAW, mereka lupa dengan semua yang mereka cintai, mereka asyik kepada manusia yang paling lembut dan berkasih sayang, manusia yang paling banyak tersenyum, manusia yang paling ramah, SAW wabarik ‘alaih, sehingga Allah memuji sang Nabi dalam Firman-Nya: “ Waman ahsana qoulan mimman da’aa ila Allah wa ‘amila sholihan wa qoola innanii minal muslimiin”
“Adakah ucapan yang lebih indah kata Allah selain ucapan orang yang menyeru kejalan Allah dan kepada amal sholeh dan berkata sungguh aku adalah orang yang muslim”

Maka jatuhlah memahaman kita sedemikian banyak para penyeru kejalan Allah dan kepada amal yang sholeh, akan tetapi pemimpin mereka semua Sayyidina Muhammad SAW. Pemimpin penyeru kejalan Allah.
“ Innaa arsalnaaka syahidan wa mubasyiron wa nadziron wa daa’iyan ila Allah bi idznihi wa siroojan muniroo”
Pelita yang terang benderang adalah gelar dari Allah, untuk Nabi-Nya Muhammad SAW. Alangkah indahnya gelar ini digelari oleh Allah “Siroojan muniroo” pelita yang terang benderang, yang para shahabat ketika dalam keadaan sedih maka mereka mencari-cara untuk sampai menghadap sang Nabi sehingga kesedihannya ketika memandang wajah manusia yang paling ramah, manusia yang paling tidak ingin menngecewakan orang lain, (adalah wajah) Muhammad Rasululah SAW.

Ayat demi ayat turun, sehingga kemuliaan demi kemuliaan disampaikan. Kita lihat pada hadits mulia ini, dimana semulia-mulia tuntunan sang Nabi, seraya menjaga kita dengan budi pekerti yang indah “Iyyaakum wazzhon fa innazzhonna akdzabul hadiits”, Hati-hati kalian dengan sangka buruk karena sangka buruk ucapan yang paling dusta”, disini sang Nabi membimbing kita untuk terhindar daripada permusuhan dan perpecahan, diteruskan oleh sang Nabi “walaa tajassasu“ jangan mencari-cari aib orang lain, “walaa tahassasu” jangan berusaha mencari-cari kabar tentang buruknya aib orang lain, “ walaa tabaaghoduu”, jangan saling membenci satu sama lain “walaa yakhthub rojulu ‘alaa khithbatii akhiihi hattaa yankiha auyatruk” akhlak sang Nabi , jangan melamar seorang wanita yang sudah dilamar oleh pria lainnya sampai ia menikahinya atau tidak jadi menikahinya”.

Ini hadirin, adalah tuntunan-tuntunan yang kalau kita lihat biasa saja tapi kalau dijalankan, orang yang melakukan ini akan menjadi pembuka kebahagiaan bagi masyarakatnya, akan dijadikan panutan, akan dijadikan idola, akan dicintai dan akan menjadi sebab terjadinya kebahagiaan dan kesejahteraan di masyarakatnya, muncul 2 orang seperti ini 3 orang , 4 orang 5 orang, dunia ini akan indah bila kita mengikuti makhluk yang paling indah (yaitu) Nabiyyuna Muhammad SAW yang diciptakan oleh yang Maha Indah (yaitu) Allah.

Al-Hafizd al-Iman Ibnu Hajar al-Asgholani dalam kitabnya fathul bari bi syarah Shohihul Bukhari, menukil (mengutip) makna dari hadits ini sekilas, bahwa yang dimaksud tidak boleh melamar wanita yang sudah dilamar oleh orang lain ini, ‘ala sabilil ikroh, makruh bukan haram, tapi dari jalan adab dan menjaga perpecahan, bukan tidak sahnya lamaran, lamarannya tetap sah, kalau seandainya hal itu belum menjadi pernikahan, akan tetapi hal seperti ini hal yang menjadi sebab perpecahan sehingga dilarang oleh Nabiyyuna Muhammad SAW. Rasul selalu menjaga agar kita selalu di dalam kemuliaan, selalu dalam kedamaian, selalu dalam persatuan.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah. Dan (dialah) Rasul SAW (yang) menyampaikan kepada kita cara-cara termudah dalam kehidupan. Rasul SAW dari bentuk keindahan tuntunannya, untuk orang-orang dari pada pemuda yang akan melakukan pernikahan ada bimbingannya dari sang Nabi, dalam berumah tangga ada bimbingannya, dalam bermasyarakat ada bimbingannya, dalam bermu’amalah (berbakti) pada ayah dan bunda ada tuntunannya, dalam berbuat kepada anak-anak dan keturunan ada tuntunannya.

Kita lihat bagaimana sang Nabi bersabda riwayat Shohih Bukhori: “Tazawwajuu walau bikhootim min hadiid” nikahlah kalian walau dengan mahar cincin dari besi”. Ini hadirin hadirot hadits yang tampaknya singkat saja, walaupun mengandung sedemikian banyak hikmah-hikmah mulia, disini sang Nabi mengangkat harga terbesar untuk kaum wanita, kalau kita membaca sekilas seakan-akan ini menghina kaum wanita, masa’ mahar dari cincin besi? Berapa harga cincin besi? di jalan juga banyak besi dibikin cincin. Hadirin hadirot justru disini Rasul SAW ingin mengajarkan bahwa mahar bukan untuk membeli wanita, sebagian orang salah paham, mahar adalah untuk membeli dan menghalalkan wanita. Wanita tidak bisa dibeli kehormatannya, oleh sebab itu Rasul SAW memberikan mahar yang demikian kecilnya dalam akad nikah, demi untuk apa? pertama menjaga perzinahan. Banyak pria dan wanita yang sudah ingin menikah tertahan gara-gara belum adanya harta yang banyak, terjadi pernikahan dan kehamilan sebelum menikah, ini yang pertama. Yang kedua menghargai derajat wanita tersebut, menghargainya dengan adab dan akhlak, bukan dengan harta atau emas dan perak, kalau yang menghargainya dengan emas dan perak yang mahar, maharnya sudah sedemikian mahalnya, selesai ia menikah ia berkata; engkau milikku, sudah besar-besar ku keluarkan maharnya, kan kira-kira begitu? tentunya tidak demikian. Islam menghargai kaum wanita. Ini mahar yang demikian tiada artinya, dalam hadiah dipersilahkan mahar semahal apapun.

Hadirin hadirot Rasul meneruskan lagi ”Aulim walau bi syaah” Riwayat Shohih Bukhori, adakan jamuan pernikahan “ jamuan pernikahan itu sunnah, walau dengan seekor kambing yang disembelih saja”. Berfikir puluhan juta, ratusan juta, makin murah makin malu, justru makin mahal makin jauh dari sunnah Nabi Muhammad SAW, semakin besar boleh-boleh saja, tapi yang sunnah adalah yang sederhana. Hadirin hadirot ini yang mesti dipahami oleh muslimin muslimah yang akan menikah atau yang putra-putrinya akan menikah atau yang kelak mempunyai anak yang akan menikah, perhatikan sunnah Nabi Muhammad SAW hal ini membawa keberkahan.

Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori: “lewatlah seorang pemuda yang kaya raya non muslim, Rasul berkata : apa pendapat kalian tentang pemuda ini? maka orang yang disekitarnya berkata: orang kaya raya, orang merdeka, melamar siapa pun pasti diterima, kalau ia berbicara pasti didengar ucapannya, kalau ia minta tolong semua orang akan menolong, kalau dimintai pertolongan semuanya dia akan mampu memberikan pertolongan. Lalu lewat orang kedua, pemuda yang miskin muslim, pendapat kalian apa tentang pemuda ini? Maka mereka berkata: pemuda ini muslim tapi miskin, kalau seandainya ia dimintai bantuan belum tentu ia mampu membantu, kalau ia meminta bantuan belum tentu ada yang mau membantunya, kalau ia berbicara belum tentu orang mau dengar ucapannya, maka Rasul SAW bersabda : “Ini (menunjuk kepada pria yang miskin tadi) lebih afdhol dari sepenuh dunia pria yang tadi. Pria yang tadi sepenuh dunia ini lebih afdhol”.

kita Tanya, kenapa Rasulullah berbuat seperti itu? Rasul ingin mengangkat derajat dan kemuliaan yang hakiki dalam kehidupan, inilah kemuliaan, inilah hal-hal yang sangat luhur, dan inilah hal yang hina dimata Allah SWT. Ukuran kekayaan bukanlah ukuran, karena kehidupan dunia sementara, setelah itu ada yang kaya raya dengan istana megah yang kekal, merekalah orang yang bertaqwa kepada Allah. Kekayaan dan kemiskinan di dunia hanyalah sandiwara dan sementara saja, kesedihan dan kegembiraan di dunia adalah sesaat dan setelah itu akan muncul dua tempat bagi setiap orang yang hidup di atas permukaan bumi, dua tempat. Tempat yang orang-orang diridhoi oleh Allah yaitu surganya dalam kebahagiaan yang kekal, atau dalam kemurkaan Allah dalam api neraka, hanya dua tempat, tidak ada tempat yang ketiga, kalau tidak disini ya disini, kalau tidak disurga pasti dineraka, kalau tidak dineraka pasti disurga, salah satu dari dua, kemana kita? Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.

Diriwayatkan, dari pada bentuk indahnya budi pekerti sang Nabi SAW oleh Shohih Bukhori: Rasul SAW memerintahkan kami tujuh hal kata para shahabat: yang pertama “ ’iyaadatul mariidh” menjenguk orang-orang yang sakit; Kita bertanya, ya ini hal sangat remeh, menjenguk orang sakit, tapi kalau kita dalami maknanya hadirin hadirot, diriwayatkan dalam Shohih Muslim, hadits qudsi Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-Ku Aku sakit dan kau tidak menjenguk-Ku”, maka hambanya bertanya: Robbii bagaimana kami menjenguk-Mu? Sedangkan Engkau Robbul’aalamiin, maka Allah menjawab: “fulan, hamba-Ku sakit kau tidak menjenguknya “Lau’udtahu lawajad tani ‘indak, kalau kau menjenguknya, akan kau temukan Aku (kata Allah) berada disebelahnya”, bukan berarti wujudnya Allah, tapi bentuk besarnya keridhoan Allah SWT bagi orang yang menjenguk orang yang sakit. Orang yang menjenguk orang yang sakit hadirin hadirot, disini ada bentuk kekuatan, kekuatan apa? Kekuatan shilah dan hubungan dengan orang itu dan keluarganya, orang yang sakit, apabila ia dijenguk, ia tidak akan lupa selama-lamanya, saat aku sakit fulan yang menjengukku fulan, seandainya ia wafat keluarganya pun tidak akan lupa, saat almarhum sakit yang menjenguk si anu si anu si anu, ini perbuatan satu dua menit hadirin hadirot, akan tetapi menyambung shilah sedemikian panjangnya seumur hidup, bahkan sampai yaumil qiyamah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Demikian hebatnya sang Nabi mengajarkan satu dua menit perbuatan, bisa menyambung silaturrahminya dunia dan akhirat dengan orang tersebut dan keluarganya “ ‘iyaadatul maridh” bathinnnya ia mendapat keridhoan Allah sebagaimana hadit qudsi tadi, dzohirnya ia menyambung hubungannya kepada yang sakit dan keluarganya. Yang kedua, adalah “Tasymitul ‘aathis” yaitu “mengucapkan doa “Yarhamkallah” bagi orang yang bersin”, masa’ sunnahnya Nabi hanya urusan bersin saja pakai didoakan, pakai diperintah. Hadirin hadirot disini tersimpan dahsyatnya rahmatnya Allah SWT bagi orang yang memperbuatnya, karena ketika seseorang bisa mendoakan saudaranya, walau saudara hanya bersin saja, apalagi kalau saudaranya ditimpa sakit yang keras, bersin saja ini penyakit paling ringan sudah diajarkan doa oleh Nabi Muhammad SAW, doa itu muncul, melihat kesulitan saudaranya walaupun hanya besin, ini hebatnya sunnah Nabi Muhammad SAW mendidik dan mentarbiyah jiwa, untuk sampai kepada rahmat-Nya Allah SWT , karena Allah SWT akan menyayangi orang-orang yang menyayangi makhluk-Nya.

Selanjutnya yang ketiga “ Ittibaa’ul janazah” mengikuti dan mengantar jenazah”, kita jadi Tanya, urusan apa dengan mengantar jenazah? Rasul SAW bersabda, diriwayatkan dalam Shohih Muslim: “Barang siapa yang mengantar jenazah sampai mensholatkannya ia mendapat satu qiradh dan bila ia meneruskannya sampai menguburkannya ia mendapat pahala dua qiradh yang setiap satu qiradhnya bagaikan gunung uhud”, berapa menit kita mengantar jenazah? berapa menit mensholatkannya? berapa menit menguburkannya? barang kali paling lama dua jam saja, itu tersimpan pahala dua gunung uhud, lalu kita beribadah siang malam seratus tahun belum tentu terkumpul sebesar pahala dua gunung uhud, ini dijadikan oleh Allah SWT, pahala besar karena apa? demi muslimin muslimah, menyambung silaturrahmi kepada saudaranya, walaupun saudaranya telah wafat, wafat masih dikejar oleh muslimin muslimah karena tersimpan rahasia keridhoan Allah SWT, manfaat dari mayit, sekarang, bagaimana mayit memberi manfaat? Jelas hadits Nabi Muhammad SAW, ikut mensholatkannya, ikut menguburkannya, rahasia kemuliaan Allah dan keridhoan-Nya demikian besar dan dahsyatnya.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah SWT.
Yang keempat, Rasul meneruskan sabdanya “wanashril madzlum” dan menolong orang-orang yang teraniaya”, Menolong orang yang teraniaya, ini pahala besar, karena doa mereka tidak akan dihalangi oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang telah kita baca beberapa pertemuan yang lalu : “Ittaquu da’watal madzlum fainnahu laisa bainahu wa bainallahi hijaab“ hati-hatilah kalian pada doa orang-orang yang didzolimi karena tidak ada batas yang membatasi doa mereka dengan Allah SWT”. Orang yang dianiaya doanya diijabah oleh Allah SWT, Rasul mengajarkan apa, untuk membantu orang yang teraniaya, orang yang teraniaya, saat dibantu pasti berterima kasih dan mendoakan orang-orang yang membantunya, ijabah dari Allah SWT muncul, berkat perbuatan ini. Ini siasat sang Nabi mentarbiyah umatnya untuk selalu mendapatkan keuntungan besar dalam pahala-pahala, dibuka oleh Rasul SAW rahasia-rahasia kemuliaan.

Diriwayatkan pula dalam riwayat yang tsiqoh (riwayat yang kuat dan jelas sanadnya) , ketika salah seorang rahib dari Bani Israil, ia beribadah memisahkan dirinya dari keluarganya dari semua orang, memisahkan diri disebuah lembah tak kenal siapa pun, tidak mau berteman dengan siapa pun, membangun rumahnya sendiri, ada kebunnya, ada danaunya ada segalanya, ia tidak mau kenal dengan orang lain, hanya ibadah, lantas syaithon tidak puas melilhat orang ini, maka syaithon pergi melihat kampung terdekat dari pada rahib ini, syaithon melihat ada wanita yang sakit jiwa, ayahnya mencari obat tidak sembuh, kakaknya, ibunya sudah membawanya berobat kesana kemari, tidak ada penyakit dan tidak ada kesembuhan, syaithon berkata: ini, akan kujadikan cara untuk merusak rahib tadi, rahib seorang pemuda, ini wanitanya sakit jiwa, syaithon datang melalui mimpi kepada ayahnya, ini hadirin berhati-hati terhadap mimpi, mimpi walaupun melihat wajah orang suci, terang benderang, hati-hati kalau mengajak kepada kemunkaran, bisa jadi syaithon, kecuali mimpi saiyyiduna Muhammad SAW, pengecualiaan, sabda Rasulullah “Man ro’aani fil manaam faqod ro’aani walaa yatamatssalusyaithoonu bih“, barang siapa yang melihat aku dalam tidur sungguh ia telah melihat aku dan syaithon tidak bisa menyerupaiku” . indah sekali dan mulia satu ciptaan yang tidak bisa diserupai syaithon, saiyyuduna Muhammad SAW. Kembali kepada hikayah tadi, syaithon masuk dengan bentuk orang yang sholeh, wajah bercahaya, berkata kepada orang itu: “mau putrimu sembuh? Pergi kerahib itu, disana ada rahib ahli ibadah, taruh disana, titipkan disana, sembuh!” (lalu) Ia (syaiton) datang kepada kakak wanita yang sakit, pada ibunya, dengan mimpi yang sama, dimalam yang sama, keesokan harinya, ayah bercerita semalam aku mimpi begini-begini, istri berkata aku juga mimpi, kakaknya berkata aku juga mimpi, kalau begitu kita titipkan disana, (lalu) rahib menolak, aku tidak mau teman, jangankan wanita, pria saja aku tidak mau, karena akan menggangguku dari ibadah, apalagi wanita yang bukan muhrim, maka setelah dibujuk dan dibujuk, syaihton pun membisikan dalam hatinya terima saja, barangkali ibadah, nih hadirin hadirot, hati-hati dengan khali, khali itu adalah wanita dan pria yang sudah dewasa berada ditempat yang menyendiri dari orang lain. Ini bahaya (kalau) menyendiri, kalau ditempat ramai maka akan terhindar dari fitnah tapi kalau ditempat yang sepi?. Maka rahib pun menerimanya, “silahkan, tapi jangan dirumahku, disebelah, kau bangun rumah khusus untuknya, aku tidak akan berbuat apa-apa selain membawakan makanan untuknya dan mendoakan”, (kata rahib) maka ditinggalah mereka berdua dilembah ini, ini yang sangat berbahaya, karena yang ketiganya syaithon, betul saja syaithon membujuk, “jangan cuma diberi makan, ajak bicara, ini cuma berdua tidak ada orang lain, tidak ada walinya, tidak ada tetangganya, tidak ada saudara, tidak ada teman” (kata Syaiton) rahib itu mulai mengajak bicara, duduk bersamanya, dan akhirnya menghamilinya, tidak ada yang lihat, syaithon masuk lagi kedalam hatinya, “perempuan ini sudah hamil, sebentar lagi keluarganya datang, habis kau nanti, bagaimana cara yang terbaik? Cara yang terbaik bunuh saja! Bunuh, kuburkan, tidak ada yang tahu, katakan saja wanita ini wafat, sakit, semua percaya padamu, kau kan rahib”, (kata Syaiton), ia (rahib) pun membunuhnya. Orang yang tidak pernah berbuat dosa ini terjebak pada zina, syaithon tidak puas dijebak dengan pembunuhan, setelah terbunuh, syaithon belum puas, ia datang lagi kepada keluarganya, ayahnya, ibunya, lewat mimpi lagi, putri kalian dihamili oleh rahib itu, dia akan memungkiri, kalau tidak percaya gali kuburnya, buktikan putri kalian hamil atau tidak. Masyarakat keluar beramai-ramai mendatangi rahib, rahib ditanya betul kau telah menghamilinya? mana putri kami? wafat, dimana kuburannya? disini, kau menghamilinya? tidak, bongkar makamnya buktikan, terbukti hamil, rahib lari kerumahnya, dikejar oleh masyarakat sekitar dan syaithon muncul dengan wujud manusia, syaithon muncul dengan wujud manusia hadirin, teriwayatkan dalam beberapa riwayat Shohih Bukhori, pada para shahabat syaithon muncul dengan wujud manusia, lalu syaithon berkata; “wahai rahib aku yang membuat ini semua, aku cemburu melihat kau berbuat baik, ku datang kesana lewat mimpi, aku yang membisikanmu untuk berbuat zina, aku yang membisikanmu untuk membunuh, sekarang mereka sudah diluar, sebentar lagi mereka masuk, kau dibunuh sebagai pezina dan sebagai pembunuh, kalau kau mau mengikuti syarat yang kuberikan, akan kututup kau, orang tidak akan melihatmu, setelah itu, kamu boleh ibadah sepanjang hidupmu, satu syarat padaku”, “apa syaratnya” kata rahib, sekarang kau sujud padaku dan yakini akulah berkuasa atas segala sesuatu, rahib tidak tahan melihat ini, iapun sujud kepada syaithon dan berkata “kau berkuasa atas segala sesuatu” Pintu terbuka, masyarakat masuk dan membunuhnya, rahib ini, yang tidak pernah berbuat dosa, tenggelam didalam perzinahan, tenggelam dalam pembunuhan, wafat dalam kekufuran.

Demikian berbuatan syaithon, hal seperti ini hadirin bukan merisaukan kita, merisaukan sayyidul wujud Nabi Muhammad SAW, beliau tidak diam, beliau berikan kepada kita azimah untuk menjaga dari ini.

Di riwayatkan dalam Shohih Bukhori, Barang siapa yang mengumpuli isterinya dan membaca: “Bismillah wa jannibnisyaithon wa janniibisyaithon maa rozaqtanaa”, maka ketika ia memiliki keturunan, “Lam yadhurrahusyaithonu abadaa”. Orang yang ketika akan mengumpuli isterinya mengucap: bismillah wahai Allah jauhkan syaithon dariku dan jauhkanlah syaithon dari apa yang akan Engkau berikan, jika ia mempunyai keturunan maka tidak akan bisa dimudhorotkan dan dicelakakan oleh syaithon selama-lamanya” bersih. Ada azimat yang bisa membentengi dari godaan syaithon? Tidak ada, kecuali azimat sayyidina Muhammad SAW, demikian hebatnya sunnah sang Nabi menjaga umatnya jangan terjebak dengan kekuatan syaithon. kita bertanya, lalu bagaimana mereka yang terlepas dari kemuliaan itu? Rasul mengajak lagi, diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqoh dan shohih “Barang siapa yang membaca bissmillahilladzi laa yadhurru ma’a ismihi syaiun fil ardhi walaa fissamaa wa huwassamii’ul ‘aliim tiga kali setiap harinya Allah akan menjaganya daripada kecelakaan godaan syaithon”, demikian hebatnya sang Nabi menjaga kita hadirin hadirot, dibentengi jangan sampai terjebak syaithon, jangan sampai terkena tercelakakan oleh musibah.

Riwayat lainnya dalam Shohih Muslim dikatakan; seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah, ya Rasulullah semalam aku digigit kalijengking, Rasul berkata jika engkau membaca setiap hari “ a’uudzu bikalimaatillaahi taammaati min syarri ma kholaq” ia tidak akan digigit hewan berbisa”, jaminan dari Nabiyyuna Muhammad SAW, sampai digigit hewan berbisa pun Rasul menjaga kita, jangan sampai digigit hewan berbisa, jangan sampai dicelakakan oleh syaithon, ini penjagaan sang Nabi kepadaku dan kepada kalian dan kepada seluruh umatnya.

Telah benar Firman Allah yang telah berfirman “Laqod jaakum rosulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariisun ‘alaikum bil mu’miniina rouufurrohiim” telah datang kepada kalian seorang rasul yang menjaga kalian dan sangat berat memikirkan musibah yang menimpa kalian dan kepada orang-orang beriman itu sangat berlemah lembut”. Dijaga hadirin hadirot, lebih dari ayah dan ibu, jangan kena hewan berbisa jangan terkena godaan syaithon, jangan sampai wafat dalam su’ul khotimah, ini sunnahnya, ini sunnahku, jangan berbuat ini, jangan berbuat itu, dijaga lebih dari ayah dan bunda kepada anak-anaknya, inilah idola kita, Nabi kita Muhammad SAW wabarok’alaih.

Besarnya cinta beliau kepada umatnya, terlepas dengan ucapan “Syafa’atii li ahlil kabaair min ummatii” syafa’atku akan kuberikan kapada umatku yang berdosa besar”. Adakah orang yang lebih baik dari ini? Adakah orang yang lebih lembut dan lebih mulia dan berhak untuk dicintai melebihi ini? Hadirin hadirot, dimasa itu kita harus bertanggung jawab atas segala dosa, dimana ayah dan ibu ingin mencelakakan anaknya, dan anak ingin mencelakakan ayah dan ibunya, suami ingin menjerumuskan isteri dan isteri ingin menjerumuskan suaminya asalkan selamat dari siksa Allah, disaat itu ada yang berkata “Syafa’atii li ahlil kabaair min ummatii” idolaku dan idola kalian idola muhijirin (para sahabat yang hijrah dari Makkah ke Madinah) dan anshor (para sahabat yang sudah tinggal diMadinah sebelum Rasulullah hijrah), idola para wali Allah, Nabiyyuna Muhammad SAW.

Hadirin hadirot, camkan, renungkan, ini akhir dari membahasan dan pembicaraan kita dimalam ini, renungkan, suatu saat, jika aku dan kalian beruntung, melewati sedemikian banyak medan-medan yang aneh, yang setelah itu sampailah kepada istana-istana megah, surganya Allah, itu akan sampai kepada kita dan disaat itu ada majlis-majlis, tempat-tempat duduk perkumpulan-perkumpulan, dimana orang-orang bisa berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW, jika engkau masuk kedalam surga kau pasti berjumpa dengan beliau, disaat itu bebas, kamu ingin mencium tangannya, ingin memeluknya, ingin mengadu; Ya Rasulullah aku dahulu terkena musibah ini dan itu dan lain sebagainya, silahkan, disaat itu kita bebas bertemu dengan Rasulullah SAW, Rasul menjamu para umatnya untuk jumpa dengan beliau diistana yang termegah tentunya, disurga Allah tidak ada istana yang lebih megah dari istana Nabi Muhammad SAW, dan para tamu berdatangan menyalaminya dan terus dan terus demikian, apakah ini akan datang kepada kita? satu dari dua, kalau tidak kenikmatan hidup maka kobaran jeritan api neraka.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, tentunya kita berharap ya Robbii kami bersangka baik Engkau masukan seluruh kami kedalam surga-Mu Robbi, “ana ‘inda zdonni ‘abdi bii, Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku”. Robbi kami semua yakin, bahwa Engkau akan memasukan kami kedalam surga-Mu, dan mengampuni kami. Seorang hamba dipanggil oleh Allah SWT dan telah dihitung amal-amal ibadahnya, dan lebih berat dosanya, ia digiring masuk kedalam api neraka, dan ia berhenti seraya berbalik; Robbii, dimasa hidup aku kira Kau tidak akan memasukanku kedalam surga, Allah berkata; masuk surga sekarang dengan sangka baikmu kepada-Ku, akankah sangka baikmu kepada Allah akan memastikanmu masuk kedalam surganya Allah SWT, ya Robb jangan salahkan kami bila bersangka baik Engkau akan memasukan kami kedalam surga, ya Robb didalam surga itulah kami berjumpa makhluk yang paling indah dan paling Kau cintai, disaat itu pastikan kami jumpa dengan idola kami (yaitu) Nabiyyuna Muhammad SAW, ya Robb kami mendengar sabda beliau “akan kalian lihat hal-hal yang kalian ingkari dari musibah dan kesulitan dalam hidup, “Fashbiruu hatta talqounii ‘alaa haudh” bersabarlah sampai kalian jumpa dengan aku ditelaga haudh”. Ya Robb pastikan kami dalam kelompok yang bersabar dalam hidup, pastikan kami jumpa dengan beliau ditelaga haudh, “Fashbiruu hatta talqounii ‘alaa haudh” sabarlah kalian sampai kalian jumpa dengan aku ditelaga haudh”, kami telah menganggap Robbii, ucapan kalian itu pada kami, yang bersabar 14 abad setelah beliau wafat, dan kami masih mengikuti sunnahnya, Robbii kami terjebak dalam dosa dan kesalahan dan hanya Engkaulah yang bisa mengangkat kami dari jebakan dosa dan perangakap syaithon, Robbi demi kemuliaan sunnah NabiMu Muhammad SAW selamatkan kami, hingga wafat dalam husnul khotimah, selamatkan kami untuk mencapai lezatnya khusu’ selamatkan kami dari kobaran api neraka ya Robb, jangan ada satu nama pun dari kami yang hadir, yang akan menginginkan api neraka, ya Allah, haramkan semua dari kami dari kobaran api neraka ya Robb, dari dahsyatnya siksa kubur, dari rintihan di alamul barzah, ya Allah ya Rahman ya Rahim ya dzaljalaali wal Ikrom, kami menjerit memanggil-Mu, dimajlis ini agar tidak terjadi jeritan kami di api neraka kelak ya Robb ya dzaljalaali wal ikrom ya dzat thouli wal in’aam, ketika Engkau bertanya kepada kami atas perbuatan kami, maka tentunya kami akan Kau adili dan masuk kedalam kemurkaanMu dan neraka, tapi jika Kau adili kami dengan rahmat-Mu dan syafa’at nabi-Mu, maka kami akan sampai kedalam surga, ya Robb ya Rahman ya Rahim pastikan kami mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad SAW wa barok ‘alaih, pastikan kami bebas dari api neraka, ya Allah ya Rahman ya Rahim, bebaskan kami dari siksa kubur, bebaskan kami dari jeritan di alam kubur, bebaskan kami dari lolongan di alamul barzah, ya dzaljalaali wal Ikrom dan bebaskan kami kami dari musibah dan kesulitan didunia, Robbi Robbi ya dzaljalaali wal Ikrom, telah berjanji Nabi kami Muhammad SAW “Almar,u ma’a man ahab” seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”. Ya Rahman ya Rahim, walaupun kami terbenam dan terperosok dalam jebakan dosa, tapi ada kecintaan dalam jiwa kami kepadaMu dan kepada NabiMu, ya Rahman ya Rahim, jika kami mengingat keindahan perjumpaan dengan Nabi kami maka disaat itu tidak ada lagi kenikmatan yang lebih, terkecuali berjumpa dengan dzatMu yang Maha Indah ya Allah ya Rahman ya Rahim “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” wahai Allah beri kami kesempatan memandang dzatMu yang Maha Indah”. Ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu, “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” wahai Allah beri kami kesempatan memandang dzatMu yang Maha Indah, yang Maha Indah, yang Maha Indah, “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim”, halalkan mata ini memandang dzatMu yang Maha Indah “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” “Allahummarzuknan nadzor ilaa wajhikal kariim” ilaa wajhikal kariim” ilaa wajhikal kariim” ilaa wajhikal kariim” nadzor nadzor nadzor´ memandang memandang memandang dzatMu yang Maha Indah. Manusia yang terakhir keluar dari api neraka, berpuluh ribu tahun ia terus diteropang dan melolong di dalam neraka, ketika ia dipanggil oleh Allah, Allah menyikapkan tabir keindahan dzat-Nya, sehingga hampir melihat indahnya Allah, lalu Allah bertanya ; hamba-Ku pernahkah kau merasakan siksa neraka? Hamba itu berkata; tidak pernah ya Allah, dari indahnya memandang dzat Allah, hadirin hadirot jadikan malam-malam, malam doa dan munajat, mari kita akhiri perjumpaan ini dengan munajat, memanggil nama-Nya yang Maha Indah, ya Rahman ya Rahim ya dzaljalaali wal ikroom, demi keindahan dzat-Mu, demi kerinduan kami kepada-Mu padamkan seluruh dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, halalkan seluruh dosa kedua orang tua kami, jangan sisakan sebutir dosapun pada pada mereka terkecuali telah Kau hapuskan, ya Robb ya dzaljalaali wal ikroom ya dzathouli wal in’aam ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu ya Allahu, hadirin hadirot nikmati indahnya nama Allah, sejukkan jiwamu dengan nama-Nya, padamkan seluruh musibahmu dengan menyebut nama-Nya, singkirkan segala kesulitanmu dengan memanggil nama-Nya, Allah ya Rahman ya Rahim.

Hadirin hadirot hal yang perlu saya sampaikan, insya Allah, Allah telah mengizinkan kita untuk memulai mengadakan maulid tahunan Majelis Rasulullah SAW, beberapa bulan yang lalu, kita berbicara belum memungkinkan mengadakan majelis tahunan Majelis Rasulullah, akan tetapi tahun ini Alhamdulillah insya Allah, telah Allah izinkan kita mengadakan maulild tahunan, kita akan mengadakannya pada tanggal 12 Robi’ul Awal tepat, dipagi hari, acara dari jam delapan sampai sebelum dzuhur, kira-kira dua jam saja dan kita perkirakan hadirin melebihi 100 ribu muslimin muslimah, ini akan semoga menjadi maulid terbesar dibumi Jakarta dan sekitarnya.

Hadirin hadirot tempat yang telah kita tetapkan dan kita arah adalah stadium utama senayan Jakarta, akan tetapi karena baru saja kabar didahului oleh partai P3 mengadakan acara disana, maka kita tidak bisa mengadakan acara disana, saya pindahkan keistora senayan, ternyata juga sudah didahului oleh orang lain dalam acara-acara nasrani karena setiap harinya ada acara nasrani, oleh sebab itu kita mengalihkan acara di monas, insya Allah dimonumen nasional, kita akan mengadakan Maulid Akbar dan ini kita akan jadikan momen untuk terangkatnya sang idola sayyiduna Muhammad SAW dibumi Jakarta, dijantung kota Jakarta, kita deklarasikan idola yang paling berhak dimuliakan dibumi Jakarta sayyiduna Muhammad SAW. Artis-artis punya idolanya, bintang film ada idolanya, artis-artis dan panggung–panggung maksiat punya puluhan ribu idolanya, kita tunjukan panggung terbesar dibumi Jakarta, panggung sayyiduna Muhammad SAW, idola terbesar dibumi Jakarta, sayyiduna Muhammad SAW, hadirin hadirot dalam acara ini, kita tidak meleraikan partai politik manapun, justru kita mengundang seluruh pimpinan partai politik untuk mengakui bahwa idola kita sayyiduna Muhammad SAW, semua partai akan kita undang pimpinannya, untuk hadir dan melihat inilah kelompok orang-orang yang mengidolakan Rasulullah SAW, dan semua partai, kita akan harapkan untuk mendukung idola kita Nabi Muhammad SAW. Hadirin hadirot, agar dipilihlah oleh semua partai dan kelompok politik bahwa kelompok sayyidina Muhammad lebih besar dari partai lainnya. Ini kita mengundang dari seluruh stasiun televisi, kita mengundang dari seluruh surat kabar, agar diliput, dilihat oleh seluruh Indonesia dan semoga menular nanti, terdapat maulid agung di bandung, di semarang dan wilayah lainnya, akan terus insya Allah menular kekota-kota besar lainnya, kita jadikan ini momen besar dan fatha akbar untuk wilayah bumi Jakarta, demikian hadirin hadirot, minggu yang lalu kita membuka fatha akbar diwilayah depok yang selalu terhalangi dari maulid, Alhamdulillah telah dibuka oleh Allah, insya Allah kita jadikan 12 Robi’ul awal fatha akbar untuk Jakarta, amin Allahumma amin.

Agar sang Nabi dijadikan idola terbesar, sehingga masyarakat yang belum mengenal kemuliaannya, akan melihat bagaimana dahsyat dan banyaknya para pembela sayyidina Muhammad SAW, demikian hadirin hadirot, kita wujudkan cita-cita kita, menjadikan Jakarta ini serambi Madinatul Munawarah, kota yang paling ramai dengan maulid Nabi Muhammad SAW, kalau beliau dijadikan idola, ini hadirin yang hadir insya Allah melebihi 100 ribu muslimin muslimah, ini akan semakin aman Jakarta dari narkotika, dari MIRAS, dari perjudian, dari mabuk-mabukan, akan terkikis dengan banyaknya para pemuda yang beridolakan Rasulullah SAW, hingga sunnah beliau dicintai, dimuliakan dibumi Jakarta ini. Amin.

Tausyiah di Masjid Raya Almunawar, Senin 03 Maret 2008
Image Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,
Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin
Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri
Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa
Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih

Limpahan puji kehadhirat Allah SWT, yang memuliakan kita dengan undangan agung, berkumpul dalam bangunan yang paling agung, dari segenap yang dibangun dibumi Allah, yaitu bait min buyuutillah (rumah dari rumahnya Allah SWT).

Hadirin-hadirot yang dimuliakan Allah, Maha suci Allah SWT, yang memberikan kesejukkan kepada jiwa hamba-hambanya yang beriman, Maha suci Allah SWT, yang selalu mengundang hamba-hambanya kepada taubah, dan ketahuilah, dengan seseorang bertaubah itu, terangkatlah derajatnya, dari hamba yang dimurkai menjadi hamba yang dicintai, dalam sekejap berbalik keadaannya, dari maghdub ila mahbub (dari hamba yang jauh dari rahmatnya Allah), menjadi hamba yang sangat dicintai Allah.
Taubah tidak harus dengan dosa, karena idola kita panutan kita sayyidina Muhammad SAW, diriwayatkan didalam shohihain Bukhori dan Muslim, bertaubat setiap hari lebih dari 100 kali, padahal beliau tidak pernah berbuat dosa, karena apa? karena beliau tahu cintanya Allah kepada orang yang bertaubat, cintanya Allah kepada orang yang bertaubat inilah, yang dikehendaki oleh sang Nabi, beliau makhluk yang paling dicintai Allah, tapi ingin selalu dicintai Allah dan selalu mengejar rahasia kemuliaan taubat.

Hadirin hadirot, ketika seorang hamba sering bertaubat kepada Allah, maka ia diangkat semakin dekat kepada Allah, semakin dekat ia kepada Allah, semakin jauh ia dari dosa-dosa kepada Allah, hadirin hadirot, ketika muncul kerinduan kepada Allah SWT, maka cahaya iman akan menerangi jiwanya dan teranglah jiwanya dengan nama-nama Allah, teranglah sanubarinya dengan cahaya nama-nama Allah SWT, ketika jiwa terang benderang dengan cahaya nama Allah SWT, maka mengalirlah rahasia keagungan nama-Nya, kepada jiwanya, kepada dirinya, ia mengenal Allah sehingga terbit matahari keindahan Allah dalam jiwanya, akan muncul rahasia kemuliaan nama-nama Allah, dalam sifatnya, dalam ucapannya, dalam gerak-geriknya, dalam hari-harinya, muncul sifat kasih sayang pada seluruh hambanya Allah, tiba-tiba sirna kebenciannya kepada musuhnya, berganti dengan doa untuk mereka, ini hadirin, bukan hal yang kecil, tapi memuncul dari cahaya Allah yang ada didalam jiwa, ketika ia berubah menjadi lembut dan berkasih sayang kepada sesama, ketika ia menjadi pemaaf, ketika ia menjadi dermawan, ketika ia jadi idaman Allah, ketika terus dan terus sifat-sifat mulia dari cahaya kemuliaan Allah muncul dalam hari-harinya, ini semua datang dari cahaya khusu’, berawal dari taubat, berawal dari shobba (Rindu kepada Allah), berawal dari sholat, yang setiap ibadah sholat itu merupakan cahaya kerinduan kepada Allah SWT, bukankah sholat itu adalah pelampiasan rindu kepada Allah?
Kita tidak bisa jumpa kepada yang kita rindukan, tapi kita telah berizin menghadapnya, walau belum dengan panca indra, dengan jiwa. Ada orang-orang yang rindu kepada Allah, mereka melampiaskannya dengan sholat, demikian Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih seraya bersabda: “ Ji’lah qurrotu’ain sholah” dijadikan hal yang paling kucintai adalah sholat”, hal yang paling kucintai adalah shalat kata sang Nabi, karena apa? Karena beliau ini orang yang paling mencintai Allah, dan paling dicintai Allah, Allah jadikan yang paling ia cintai dalam perbuatannya adalah sholat, karena sholat adalah pelampiasan ruh Muhammad kepada Allah.

Hadirin hadirot yang dimulaikan Allah, Allah SWT yang sangat merindukan hamba-hambanya ini, sehingga mengundang hambanya 50 kali setiap hari untuk menghadapnya, demi Allah inign dekat kepada hamba-hambanya umat Nabi Muhammad SAW, maka ketika sang Nabi meminta keringanan, maka Allah mengurangkannya sampai 5 waktu, tapi sama dengan 50 waktu, padahal Allah Maha Tahu, bahwa sholat ini akan 5 waktu nantinya, tapi Allah jadikan 50 waktu terlebih dahulu, agar mereka tahu setiap raka’at ini, bagaimana cintaKu dan rinduKu kepada mereka, agar mereka yang Kuberi penglihatan, pendengaran, kehidupan, dan hari-harinya itu dimuka bumi, memahami betapa rinduKu kepada mereka, lantas Allah mengurangkannya menjadi 5 waktu, tapi sama dengan 50 waktu, merugi mereka yang mengecewakan cintanya Allah, yang memutus cintanya Allah SWT, karena dalam setiap terbit dan terbenamnya matahari, kau digulung dengan cinta Allah SWT, dalam ruku’ dan sujud, itulah ucapan-ucapan manusia yang paling agung, tidak pernah kita ucapkan kepada sesama makhluk “Subhaana Robbiyal a’la wa bihamdih” tidak pernah kita ucapkan kepada sesama makhluk “Subhaana Robbiyal ‘azhimi wa bihamdih” ini ucapan-ucapan cinta dan rindu hamba, yang diajarkan Allah untuk hamba-Nya,

Allah yang mengajarkan, ini yang mesti kalian ucapkan, wahai yang Ku cintai, untuk berjumpa dengan cintaKu Allah SWT, hadapilah cintaNya didalam sholat fardhu, itulah lambang keridhoan Ilahi Jalla wa ‘ala, yang merupakan imaduddin, yang merupakan tiangnya agama, karena dari dasar perbuatan inilah maka muncul sifat-sifat luhur dalam perbuatan kita, bila kita temukan perbuatan munkar dalam perbuatan kita, Allah memberikan obatnya, yaitu sempurnakan lagi sholat kita, muncul pertanyaan dalam jiwa banyak dari kita, aku punya maksiat ini, tapi kau tidak bisa kulawan, aku punya dosa ini, tapi aku tidak bisa menghindarinya, obati dengan sholat “Innasholaata tanha ‘anil fahsyaai wal munkar” sebagian orang berkata; untuk apa sholat kalau masih terus bermaksiat? justru terbalik, dengan banyaknya maksiat itu, obati dengan menyempurnakan sholat, obati dengan khusu’ obati dengan ucapan ruku’ dan sujud yang didalami makna, obati dengan kedalaman jiwa, saat menghadapi cinta dan rindunya Allah SWT.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Pada perjumpaan kita yang lalu, saya menukil salah satu pesan dari Nabi Muhammad SAW, berupa tujuh pesan wasiat Nabi Muhammad SAW yang belum diselesaikan, kita lanjutkan lagi tujuh pesan itu, adalah ’iyaadatul mariidh” mengunjungi orang yang sakit, dan ini telah saya jelaskan malam selasa yang lalu, dan yang kedua adalah “Ittiba’il janazah” mengikuti jenazah dan mengantarnya” ini telah dijelaskan, dan yang ketiga “Tasymitul ‘aathis” mendoakan orang yang bersin”, orang yang sakitnya paling ringan itu ya bersin, sakit yang paling ringan, kita doakan, ini warisan dari indahnya akhlak sang Nabi, dan yang empat adalah “ibroorilqosim” , yaitu “menjalankan sumpah” , mereka yang bersumpah dengan nama Allah SWT wajib untuk melakukannya dan bila mereka tidak mampu melakukan apa yang telah ia sumpahkan maka kafaratnya berpuasa empat hari, hadirin hadirot yang dimuliakan Allah yang selanjutnya yang kelima adalah “Nasrul mazhlum” menolong orang yang dizholimi” , ini adalah salah satu sifat agung, yang sangat dicintai Allah, karena Allah Maha menolong hamba-hamba yang dizholimi, sehingga dalam beberapa majlis yang lalu, kita telah mendengar hadits Nabi Muhammad SAW riwayat Shohih Bukhori “Ittaquu da’watal madzlum fainnahu laisa bainahu wa bainallahi hijaab“ berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT” . Allah menjawab doa orang yang dizholimi, walaupun dari orang yang diluar Islam.

Hadirin hadirot, demikian jumhur (kesepakatan/ kebanyakan pendapat) para ulama, bahwa orang yang dizholimi itu dikabul doanya oleh Allah, walaupun ia diluar Islam, karena apa? Bukan karena ia diterima imannya oleh Allah, tapi keadilan Allah SWT kepada hambaNya, sebagaimana sang Nabi pun, ketika orang-orang non muslim dizholimi oleh orang muslim, sang Nabi menghukumnya, sang Nabi membela orang tersebut, ia mengadu sebagaimana riwayat Shohih Bukhori “salah seorang Yahudi datang kepada sang Nabi, ya Rasulullah, ada dari shahabatmu menamparku, kenapa kau ditampar? Karena aku berkata; Nabi Musa lebih mulia dari engkau, tentunya menurut agamakan kepercayaannya, maka Rasul memanggil Shahabat itu kehadapan sang Nabi, sekarang wahai Yahudi, tampar balik shahabatku ini, demikian qishosh (hukum timbal balik) sang Nabi, membela orang non muslim yang dizholimi, demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.

Demikian pula Allah, ketika Nabiyyullah Musa AS menghadapi Qorun yang sangat kaya raya, dan ia itu kufur kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa memerintahkannya bertaubat, dan Qorun pun menolak, maka Musa AS berdoa kepada Allah “wahai bumi telanlah Qorun ini sampai kelututnya” maka bumi menelannya sampai kelutut, dan Qorun tetap tidak mau bertaubat maka Nabi Musa berkata “wahai bumi pendam ia sampai keperutnya” maka bumi memendamnya sampai keperutnya, dan Qorun tetap belum bertaubat, lantas Musa AS berkata “wahai bumi pendam ia sampai kelehernya” dan setelah itu Qorun berkata “yaa Musa (wahai Musa)…”, Nabi Musa berkata “wahai bumi pendam ia dengan seluruh tumpukkan hartanya”, maka disaat itu Allah menurunkan malaikat kepada Nabi Musa dan menegur Musa “ya Musa Lau da’aanii fa ajabtu” wahai Musa kalau Qorun ini memanggil namaKu akan kujawab taubatnya.

Demikian hadirin hadirot, Maha Indahnya Allah, Maha Lembutnya Allah kepada orang-orang yang telah kufur kepada Allah SWT. Allah sangat lembut kepada hamba-hambanya, diriwayatkan dalam Shohih Bukhori ketika salah seorang Nabi, yang ia itu digigit oleh seekor semut yang berbisa, dibawah sebuah pohon, maka sang Nabi memerintahkan umatnya untuk membakar pohon tersebut, maka turunlah malaikat mengatakan “Allah menyampaikan salam kepadamu; “fahalla namlatun waahidah” kau membakar seluruh Negara semut padahal hanya satu yang berbuat kesalahan” perbuatan sang Nabi itu, (bukan sang Nabi Muhammad SAW), sebelum beliau, perbuatan Nabi itu adalah benar, karena ia mengetahui bahwa seekor semut yang berbisa ini membahayakan umatnya kelak, semua yang duduk ditempat itu akan terbahayakan.
Al-hafizh al-Imam ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul barii bi syarah Shohihul Bukhori, menjelaskan kejadian ini, bahwa yang dimaksud oleh Allah menurunkan malaikat dan mengatakan “fahalla namlatun waahidah” bukankah yang bersalah cuma seekor semut saja? Adalah tahdid, untuk mengangkat akhlak dan budi pekerti sang Nabi itu kepada yang lebih lembut dan kasih sayang kepada Allah, tapi perbuatannya tidak salah, karena perbuatan para Nabi itu ma’sum (tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa), perbuatannya adalah demi keamanan bagi manusia, akan tetapi Allah menegurnya, menunjukkan Maha lembutnya Allah, bukankah hanya seekor semut saja kata Allah SWT dan kau membunuh sedemikian banyak semut lainnya.

Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, “Nasrul mazhlum” menolong orang-orang yang dizholimi adalah perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah, sehingga diriwayatkan didalam Shohih Bukhori “ketika ada orang yang ketika dihari kiamat ia kehabisan amal, maka ia berkata kepada Allah; ya Robb aku dahulu, si fulan didalam kesulitan aku membantunya, fulan dalam kesulitan aku membantunya, fulan dalam kesedihan aku menghiburnya, maka Allah SWT berkata kepada para malaikat; “Tajaawaz ‘anhu” maka tolonglah dia, kata Allah; tolonglah dia, demikian hadirin hadirot Allah memuliakan orang-orang yang menolong orang-orang yang zholim dan Rasul tidak menyisakan satu kemuliaan pun dalam kehidupan ini terkecuali telah diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW,

Kunci-kunci keridhoan Ilahi SWT dan yang keenam adalah “wa roddissalam” menjawab salam”, menjawab salam ini kecil hadirin hadirot, sebenarnya remeh saja, tapi kalau kita renungkan, ini menyambung silaturrahmi pada orang-orang yang tidak kita kenal, karena salam bukan hanya untuk orang yang kita kenal, untuk semua orang yang tidak kenal, yang kenal dan tidak kenal maka ia menjawab salam, kita bertemu dengan seseorang yang tidak kita kenal, kita ucapkan salam hormat padanya, ia menjawab, selesai, satu dua tahun lagi misalnya berjumpa lagi, ia akan kenali orang yang mengucap salam padaku padahal aku tidak kenal padanya , ketika ia terjebak dalam kesulitan orang itu akan menolongnya, ini orang berakhlak baik, ia tidak kenal padaku, ia berikan salam hormat padaku, hubungan kasih sayang, antara umat Nabi Muhammad SAW satu sama lain, tanpa mengenalnya, tanpa perlu pengakraban, tapi ucapan salam itu yang menyambung mereka satu sama lain, demikian hadirin hadirot Allah menginginkan ucapan salam sejahtera yang berasal dari nama-Nya yang Maha Agung, Maha Penyejahtera, disebarkan antara muslimin muslmat satu sama lain, bahkan kapada sholihin yang telah wafat, didalam sholat kita selalu mengucapkan “assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahishoolihin“
Rasul bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori “barang siapa yang mengucap ‘assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahishoolihin’ didalam sholatnya, maka Allah SWT menyampaikan salamnya kepada seluruh hamba Allah yang sholeh dilangit dan bumi”. Demikian hadirin hadirot, satu ucapan itu, menyambung silaturrahmi kita kepada seluruh hamba Allah yang sholeh, yang masih hidup dan yang telah wafat, untuk nanti dihari kiamat, orang-orang sholeh semua mengenal umat Nabi Muhammad SAW, ia bersalam kepada kami, disampaikan salamnya oleh Allah kepada kami tanpa kita mengenalnya, muncul nanti umat akhiruzzaman (akhir zaman) sudah satu kelompok dengan orang-orang yang sholeh, sudah dikenal dan berkenalan dengan orang yang sholeh karena selalu menyampaikan salam kepada mereka, demikian hebatnya Allah menyambung kemulian umat ini satu sama lain, bertemu seluruh hamba Allah yang sholeh dilangit dan bumi.

“Wa roddissalam wa ijaabatuddaa’i; dan mendatangi undangan-undangan”, yaitu undangan walimah, undangan akad nikah, ini adalah hal yang sangat disarankan oleh sang Nabi untuk dihadiri, sebagian ulama mengatakan haram orang yang tidak mendatangi undangan walimah tanpa uzur, ini tujuh wasiat dari Nabi kita Muhammad SAW. Mengenai hadits yang kita baca ini, telah dijelaskan dengan gamblang dimalam selasa yang lalu, dibawa kertas ini pada yang telah menikah, maka ia membawanya, dan yang belum menikah simpan sampai waktunya menikah, akan muncul keturunan-keturunanmu yang terjaga dari kekuatan syaithon, akan dijaga oleh Allah SWT, sebagai mana sabda sang Nabi “Lam yadhurrahusyaithoonu abadaa”, syaithon tidak akan bisa membawa mudhorot kepadanya, banyak muslimin muslimat sekarang yang sudah dihancur leburkan oleh syaithon, dengan hartakah, kedudukan kah, dengan apapun, dengan hawa nafsu, sehingga mereka hancur lebur, akan muncul insya Allah keturunan-keturunan kita kelak yang tidak bisa diganggu oleh syaithon selama-lamanya, ya Robb ya Rahman ya Rahim.
Nabi kita Muhammad SAW adalah semulia-mulia manusia, sangat mengajarkan kesederhanaan, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori : “ketika Rasul SAW menikah, bagaimana sang Nabi SAW menikah? Bagaimana jamuan makanan, jamuan makan saat pernikahan sang Nabi? Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, ketika Rasul menikah, jamuan makannya adalah dua genggam “sya’iir” muddain minasya’iir” dua genggam terigu”. Dua genggam terigu itu, yang ada untuk masakan menyambut hari pernikahan sang Nabi, dua genggam tergu itu hadirin, kalau dibikin roti, kira-kira jadi sepuluh potong saja, roti tanpa ada lauknya sama sekali, kalau kita bertanya, bagaimana jamuan pernikahan sang Nabi? itulah jamuan pernikahan Rasulullah SAW, hari pernikahan Rasulullah SAW seperti itu, ini sunnah yang sangat-sangat hampir punah dimasa kita, muslimin muslimat sekarang malu mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW, para aslafunasshoolihin sebagian dari ulama-ulama kita salafussholeh masih mengamalkan ini, mereka masih membawakan jamuan lain karena memang ada keluasan harta, jamuan lain mereka munculkan, tapi tetap mereka memasak dua genggam terigu, sehingga menjadi beberapa potong roti, untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, karena inilah sunnahnya Rasulullah SAW, sebagian besar muslimin merasa hina jika mengamalkan sunnah Nabinya, hadirin hadirot jika kita belum mampu mengamalkannya, paling tidak kita tahu ini sunnah Nabi Muhammad SAW. Sunnah Rasul bukanlah dengan jamuan yang mewah disaat pernikahan, bukan itu sunah sang Nabi, demikian sederhananya Nabi kita dan idola kita Muhammad Rasulullah SAW.

Dan beliau SAW bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori : ”Syarrutho’aam tho’aamulwaliimah di’aa fiihal’afaani wa yutrokul fukoro”, seburuk-buruk hidangan adalah hidangan pernikahan yang didalamnya hanya diundang orang-orang kaya saja tanpa mengundang orang-orang fuqoro”, ini seburuk-buruk hidangan kata Nabi Muhammad SAW, bukan berarti haram tentunya, bukan berarti haram tentunya, tetap halal, akan tetapi sang Nabi bicara seperti ini, menuntun umatnya agar muncul keseimbangan antara fuqoro (miskin) dan aghniya (kaya orang mampu), bisa saja Rasul mengatakan wajib, bisa saja orang berkata ; aku mengundang tamu-tamuku saja ini orang-orang mampu, orang-orang fuqoro nanti bisa sedekah sebanyak-banyaknya, tidak demikian, karena apa? Karena Rasul memahami keseimbangan hidup dan keberkahan pernikahan.
Orang-orang fuqoro ketika diundang jamuan pernikahan orang-orang kaya, barang kali ada yang lima enam tahun tidak pernah menyentuh makanan ini, seumur hidupnya belum pernah kenal dengan makanan model seperti itu, jika menyantapnya, maka ia akan berkata, masyaAllah Alhamdulillah berkah ini berkah, demikian hebatnya sang Nabi SAW menyatukan doa-doa para fuqoro, agar membawa keberkahan bagi kedua mempelai, demikian hebatnya sang Nabi SAW, tidak perlu berkata minta doa pada fuqoro karena doa mereka qobul, tidak demikian, Rasul menyeimbangkannya agar mereka tetap makan makanan para aghniya dalam undangan itu, membawa keberkahan bagi kedua mempelai, demikian indahnya Nabi kita Muhammad SAW, dalam setiap sunnah beliau tersimpan sedemikian banyak hikmah Ilahiyyah.
Diriwayatkan didalam Shohihul Bukhori Rasul SAW menyampaikan (yang sampai) kepada kita betapa indahnya budi pekerti beliau, ketika orang-orang dalam keramaian “Urs, ‘urs itu pesta pernikahan Anshor, diMadinatul Munawarah dari zaman dahulu sudah ada pesta pernikahan, zaman dahulu sudah ada kegembiraan dalam pernikahan, nah didalam kegembiraan itu tentunya para shahabat ingin tahu, kegembiraan seperti ini disetujui tidak oleh sang Nabi, padahal itu, pesta seperti itu tentunya merujuk kepada ghoflah (lupa dari Allah), tertawa terbahak-bahak dan lain sebagainya dalam pesta, barangkali ada lawaknya barangkali ada pentasnya dan lainnya, itu membuat seseorang lupa dari Allah, tapi bagaimana sang Nabi berbuat, apa beliau berkata ini munkar munkar bubarkan, tidak demikian, sang Nabi duduk ditempat yang jauh, melihat mereka yang berada dalam pernikahan itu dan mereka keluar, kau meninggalkan anak-anakmu pulang dari pada jamuan pesta pernikahan itu, Nabi SAW berbuat memalingkan konsentrasi mereka kepada khusu’ seraya berdiri dan berkata “Allahumma innak wa muhabbinnaas ilayya” demi Allah sungguh kalian ini orang yang paling kucintai”, coba hadirin hadirot kita bertanya, hubungannya apa antara pesta pernikahan dengan ucapan sang Nabi, wahai Allah sungguh mereka inilah orang yang paling kucintai, bagaimana nyambungnya kejadian ini, ini sang Nabi ingin membalilkkan jiwa mereka dari ghoflah kepada cinta kepada Nabi Muhammad SAW, dari mereka yang sedang tenggelam dalam hal-hal yang barangkali melupakan mereka dari khusu’nya sholat dari dzikirnya dipalingkan kembali dengan mendengar ucapan itu tentunya jiwa mereka berbalik, lebih mencintai sang Nabi,
Masya Allah kita yang keluar dari acara, kalau bahasa kita seakan-akan mau dimahari oleh sang Nabi atau diomeli oleh sang Nabi karena sudah berbuat acara besar-besaran perayaan pernikahan, ternyata tidak demikian, Nabi kita malah berkata; wahai Allah sungguh kalian adalah orang yang paling kucintai, rahasia kedalaman tarbiyah dan pendidikan qolbiyah yang mengajak jiwa mereka kembali pada kecintaan pada Nabi kita Muhammad SAW, demikian hebatnya tarbiyah sang Nabi dan bimbingan beliau untuk menghalau umatnya ini dari kemunkaran. Bagaimana orang kalau tenggelam dalam kemunkaran zaman sekarang misalnya ada orang yang tenggelam dalam mabuk-mabukan didiskoti atau dikafe-kafe, apa yang kita ucapkan? Barangkali kita menyindirnya, ini orang ahli munkar, pendosa, penjahat, ini ahli maksiat, tapi tidak demikian akhlak sang Nabi hadirin hadirot, bagaimana cara mereka kembali pada kemuliaan?

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, diriwayatkan ketika al-Imam Hasan al-Bashri, dilapori tentang suatu kelompok ditepi pantai yang dipenuhi dengan maksiat dan kejahatan, ini menganggu masyarakat sekitar, kerjanya cuma mabuk-mabukan dan berbuat dosa, Imam Hasan al-Bashri berkata “bangkit sekarang, kita datangi, maka semua murid-muridnya dan masyarakat bangkit, tentunya dikira akan dihancurkan, zaman sekarangkan berlakunya demikian sebagian saudara kita, akan tetapi Iman Hasan al-Bashri sampai disana seraya mengangkat kedua telapak tangannya ”Allahumma kamaa farrohtahum fiddunia farrih hum fil akhiroh” Wahai Allah sebagaimana Kau buat mereka gembira di dunia kami ingin mereka gembira juga di akhirat”, doa ini hadirin hadirot langsung kehadiratullah, dari jiwa yang ikhlas, akhlak pilihan. Kita sudah berbuat dosa dan maksiat, yang datang Imam Hasan al-Bashri, takut semuanya, tahu karena ini imam besar, akan tetapi bukan malah marah tetapi didoakan mereka ini, maka semuanya bertaubat kepada Allah SWT, demikian hebatnya akhlak Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak’alaih.
Hadirn hadirot, Nabi kita diriwayatkan didalam Shohih Bukhori; beliau ingin membantu pekerjaan isterinya dirumah, bila tidak ada kesibukan beliau pun bersama isterinya bahkan mencuci pakaian, atau pun menambal sandal atau pun berbuat apapun dirumah, turut membantu isterinya dirumah, bila azan beliau tinggalkan seluruh aktifitas untuk menuju sholat, demikian indahnya idola kita sayyidina wa maulana Muhammad SAW wa barak’alaih, dan beliau ini sangat-sangat dermawan, hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, dan jangan dikira Nabi ini miskin, Nabi itu hadirin hadirot setelah fatha Makkah kaya raya, tapi beliau tidak mau menggunakan hartanya, sangat kaya raya, beliau membagi-bagikan banyak kepada para fuqoro, bahkan seraya berani berkata setelah fatha Makkah, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, beliau bersabda: “Seandainya diantara kalian wafat, masih meninggalkan harta, silahkan bagikan hartanya, kalau meninggalkan hutang (falyahtinii wa ana maulaahu)” demikian diriwayatkan didalam shohih bukhori, masih ada muslimin punya hutang, datang padaku, aku yang akan menyelesaikannya, demikian jiwa besar Nabiyyuna Muhammad SAW wa barok’alaihi wa ‘ala alaih,
akan tetapi dalam kesederhanaannya, dalam cara pernikahannya, hanya sekelumit (sedikit) orang-orang ini saja, itulah yang tidak pernah kita temukan ditimur dan barat sepanjang zaman, mereka yang mengikutinya pasti dicintainya, mereka yang mengikutinya dicintai fiddunia wal akhiroh dan masih dicintai oleh Allah SWT, karena Allah SWT telah menjamin “Inkuntum tuhibbuunallah fattabi’uunii yuhbib kumullah” , jika kalian mencintai Allah, ikutilah Nabi Muhammad SAW, kalian akan dicintai oleh Allah, semakin kita mengikuti budi pekerti beliau ini, tidak mampu 100 persen sunnahnya, tidak mampu setengahnya, atau sedikit saja yang kita ikuti dari perbuatan sang Nabi, ada bentuk cintanya Allah yang menjanjikan untukmu, makin besar perbuatan kita mengamalkan sunnah makin besar cintanya Allah, alangkah indahnya orang yang memahami, ingin dicintai Allah adalah dengan mengikuti Muhammad Rasulullah SAW wa barok’alaihi wa ‘ala alaih.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, diriwayatkan didalam Shohih Bukhori; dimana Rasul SAW sangat menjaga umat, jangan sampai berlebihan ibadah, jangan sampai berlebihan didalam maksiat, diriwayatkan ketika salah seorang sahabat ra berpuasa disiang hari setiap hari dan ia melakukan sholat malam setiap malam sepanjang malam, Rasul SAW memanggilnya “engkau yang kudengar setiap hari berpuasa dan setiap malam beribadah sepanjang malam?”, “Betul wahai Rasulullah SAW,” Rasul berkata “fala taf’al (jangan kau perbuat), shum wa afthir wa kum wa nam” bangun malam tapi juga ada tidurnya, tidurlah juga diantara bangun malammu dimalam hari, puasa boleh tapi jangan setiap hari mesti ada bukanya, demikian indahnya, sang Nabi seraya bersabda: “inna li jasadika ‘alaika haqqo wa inna li ‘ainika ‘alaika haqqo wa inna li zaujika ‘alaika haqqo” Dan sungguh tubuhmu itu mempunyai hak pada dirimu, matamu mempunyai hak, isterimu (keluargamu) mempunyai hak.
Demikian indahnya, Nabi kita Muhammad SAW mengajari kita, sehingga kita terpacu untuk selalu beribadah tapi jangan lupa, mata kita mempunyai hak , tubuh kita mempunyai hak untuk ibadah juga, jangan dipakai terus untuk maksiat siang dan malam, mata ini butuh air mata khusu’, demikian tubuh membutuhkan ruku’ dan sujud, makin besar dosa-dosa kita maka perbanyak ibadah kita, dan kita mempunyai keluarga yang keluarga kita mempunyai hak atas diri kita, jangan sampai kita jadikan keluarga kita itu, adalah hanya tuntunan dosa dan keduniawian, ajarkan mereka kemuliaan, ajarkan mereka keluhuran. Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah indah sekali tuntunan Nabi kita Muhammad SAW, inilah semulia-mulia idola, inilah semulia-mulia kekasih yang dengan mengikutinya akan terbit cahaya kecintaan Allah SWT kepada kita. Hadirin hadirot bangkitkan jiwa kita dengan lantunan nama Allah, terangilah jiwamu dengan nama-nama Allah SWT, yang Allah SWT telah berfirman “Wa lillaahil asmaail husna fad’uhu biha” Sungguh Allah itu mempunyai nama-nama yang agung maka serulah Dia” Yang meminta kita memanggil nama-Nya.
Bangkitlah (wahai) hadirin hadirot, bangkitlah dengan keagungan nama Allah, bangkitkan kekhusu’an dengan keagungan nama Allah, bangkitkan kebahagiaan dalam hidupmu dengan keagungan nama Allah, bangkitkan pengampunan-Nya dengan memanggil nama Alah, bangkitkan kekuatan dunia dan akhirat, kesejukan jiwa, kebahagiaan dunia, tercapainya hajat, kebahagiaan kekal dan abadi diakhirat, lepas dari siksa kubur, bangkitkan itu semua beserta kemuliaannya dengan memanggil nama Allahu Allah.

Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, kita telah dengar firman-Nya: ”Walillahil amsail husna fad’uhu biha” Allah memberi nama-nama yang indah yaitu asmaul husna maka serulah dia, perintah dari Robbul’alamin, mengundang yang terpanggil dalam kemuliaan untuk memanggil nama-Nya. Kita mengenal 99 nama Alah, diriwayatkan didalam riwayat yang shohih “Barang siapa yang menghapalnya, tidak akan pernah menyentuh api neraka selama-lamanya” dan satu dari 99 nama Allah itu adalah Allah, ini adalah “sulthoonudzikir” (raja dari semua dzikir) kepada al-ma’rifatillah, karena berkumpul seluruh keagungan nama Allah pada kalimat Allah, maka hadirin hadirot kita bermunajat memanggil nama-Nya, menenangkan jiwa kita, menenangkan keadaan kita, menenangkan kerisauan kita, menenangkan permasalahan kita, menenangkan kehidupan kita, maka jadilah terbit dan terbenamnya matahari kesejukan dan kebahagian bagi kita, ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Allahu ya Allah ya Rahman ya Rahim ya Dzaljalaali wal ikroom. Hadirin hadirot seluruh kenikmatan dunia dan akhirat berawal dari Allah SWT, seluruh kebahagiaan dunia dan akhirat dari Allah SWT, yang menerbitkan matahari dan membuat alam semesta ini ada, yang menciptakan milyaran planet terhampar dialam semesta bertasbih mengagungkan nama-Nya, sehingga jiwa kita didalam pelita-Nya yang terang benderang dengan nama Allah SWT.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s